Media Online atau Media Kopas?

Suka atau tidak suka, siap atau tidak, media online telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari seiring dengan mudahnya kita memanfaatkan fasilitas akses atau koneksi internet. Media online atau portal berita berkembang pesat beriringan dengan menjamurnya situs jejaring sosial macam Facebook yang setiap detiknya telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Lantas, bagaimana kondisi media cetak bebentuk fisik (koran, majalah, atau buletin) apakah telah benar-benar tergusur media online?


Saya pernah membaca satu kalimat “Sebuah media tidak bisa mematikan media yang lain.” Contoh sederhana adalah televisi. Pada awal perkembangannya, televisi diprediksi mematikan radio. Nyatanya hingga kini radio masih eksis, bahkan telah berkembang menjadi radio digital, yang juga ikut “tersaingi” oleh tv digital.

Meski diyakini tidak (belum) mematikan keberadaan media cetak atau yang berbentuk fisik, media online menjadi ancaman serius bagi koran atau majalah. Tidak sedikit mereka mulai beralih dari edisi “cetak” ke edisi “online”. Meski ada pula beberapa pioner media online yang sebelumnya belum pernah mengeluarkan edisi cetak sama sekali.

Dengan media online (portal berita), kejadian lima menit lalu bisa langsung kita baca dan ketahui, lengkap dengan foto, video, bahkan kita bisa sharing komentar dan berdebat pada kolom komentar atau forum yang disediakan. Sementara untuk media cetak, kita harus menunggu koran esok hari untuk membaca berita yang terjadi lima menit lalu.

Dari segi kecepatan, akurasi, efektifitas, media online jauh meninggalkan media cetak. Karena kemudahan-kemudahan yang ditawarkan media online itulah saat ini menjamur website berita, blog, hingga portal kecil-kecilan yang menawarkan konsep media online.

Parahnya, fenomena yang terjadi adalah media online yang benar-benar sudah mapan semakin mapan sementara media online yang sekedar “tiru-tiru” hanya bisa mengekor, copy paste konten di dalamnya baik itu teks, foto, bahkan hingga konsep dan desain.

Parahnya lagi, tidak sedikit website atau blog yang hanya “tipuan”. Di sana terdapat banyak kolom yang terisi iklan, sehingga terkesan bonafit dan memperoleh banyak iklan sebagai “pancingan” pihak lain untuk beriklan, padahal iklan-iklan yang ada semua hanyalah tipuan alias tidak ada satu ikatan kerja sama apa pun sebelumnya.

Sustainability

Membuat media online menjadi profitable tak semudah yang dibayangkan. Banyak yang akhirnya harus gulung tikar. Karena itu, media online perlu mengerucutkan pasar dan segmentasi daripada meniru media serupa yang lebih dahulu stabil.

Vice President of Publisher Group Detik.com, Donny Budhi Utoyo, pada acara BNCC Nasional IT Talk Show (BITS) di Wisma Antara, Medan Merdeka Selatan, Jakarta (16/5) mengatakan, butuh waktu sepuluh tahun bagi Detik.com untuk bisa stabil dan meraih keuntungan. Membuat media online sangat mudah, tapi membuatnya menguntungkan dan dapat terus bertahan itu yang sulit.

Menurut Donny, kekuatan dana memang perlu. Namun, itu tidak menjamin media online menguntungkan dan bisa survive. Sebab, yang lebih penting dari media online adalah keberlanjutan. Media yang besar karena didongkrak modal besar, biasanya napasnya tak panjang. Hanya mampu besar di awal. Apalagi, mereka biasanya berharap segera untung.

Salah satu syarat dari sebuah media online adalah sustainability atau keberlanjutan. Bisnis media adalah bisnis maraton, bukan sprint. Medan yang harus dilalui panjang. Karena itu, butuh napas yang panjang juga.

Demikian pula untuk sarana beriklan, Donny menikai iklan media online masih kalah ramai bila dibandingkan dengan televisi dan media cetak. Hal itu dikarekanan masih dalam masa transformasi. Sarannya, media online mengambil pasar berbeda dan spesifik, tidak perlu terlalu besar seperti Detik.com. Ya tentu sajal lah, kan yang ngomong orang Detik, hehehe

Membuat media online secara teknis memang mudah, tinggal butuh sebuah sistem berbasis CMS, selesai. Tapi apa yang akan dilakukan setelah sebuah media online jadi? Akan diisi dengan apa? Konsep, konten, desain, hingga marketingnya. Bila tidak dipersiapkan dan diperhitungkan dengan matang, hanya tiru-tiru media online lain yang lebih dulu ada, yang terjadi kemudian adalah sebuah media kopas alias copy-paste. (zul)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s