Pembaca adalah Pelanggan

Salah satu temanku bilang (atau menyidir ya? hehehe…) “Zul, kamu itu kuliah IT, (calon) sarjana komputer, tapi kok malah seneng dunia jurnalistik dan jadi wartawan?” Apa boleh buat, aku tanggapi aja dengan enteng, “namanya juga hobi…” Tapi belakangan aku sadar kalau apa yang telah aku tulis, apa yang telah aku liput dan laporkan, ternyata bukan cuma untuk konsumsi pribadi, tetapi telah menembus batas dunia jurnalistik itu sendiri. Terlebih aku menulis bukan untuk koran atau majalah, tetapi di “dunia maya”, yang mana semua orang bisa membacanya dimanapun berada.

Sebuah tanggung jawab besar bertambah ketika yang aku tulis membawa nama sebuah kelompok, komunitas, masyarakat, “marga”, hingga bangsa. Mungkin, sebuah tanggung jawab sosial yang terlalu besar kuemban mengingat sebelumnya aku belum pernah mendapat ilmu jurnalistik formal.

Beruntung aku mempunyai teman-teman yang selalu support dan rekan-rekan wartawan yang banyak membantu. Mungkin benar bila orang bilang ilmu yang sedikit apabila diamalkan akan berguna bagi banyak orang. Berikut salah satu artikel menarik tentang hal tulis-menulis (citizen journalism) yang aku ambil dari salah satu author di Wikimu.com

Pembaca adalah Pelanggan

Ini masih terkait dengan hari pelanggan nasional, 4 September kemarin. Umumnya penulis sering melupakan bahwa pembaca adalah pelanggan. Tanpa ada yang membaca, maka tulisan kita tidak berarti apa-apa. Bagaimana kita memperhatikan pembaca?

Di dalam pelatihan-pelatihan dasar penulisan, aku selalu tekankan : tulis saja apa yang ada di pikiran. Jangan takut salah. Semua ditulis saja apa adanya. Nanti aku bantu edit/merapikannya. Penekanan ‘tulis saja apa yang dipikir’ adalah penting untuk pemula. Karena biasanya orang selalu mengatakan tidak bisa menulis, sebenarnya karena efek psikologis. Takut tulisannya jelek, takut dikritik orang lain, malu dsbnya. Tetapi pada kenyataannya, orang-orang yang takut menulis dan akhirnya bisa memecahkan kebuntuan psikologisnya sendiri, malah tulisannya lebih bagus daripada yang aku tulis. :-)

Itu buat pemula. Tetapi kalau sudah biasa menulis dan sudah menghasilkan banyak tulisan, tetapi masih asal tulis apa saja yang ada di pikiran, ya kebangetan. :-)

Tahap berikutnya, seorang penulis harus memperhatikan pelanggan atau pembaca. Ada beberapa tips untuk memberi pelayanan yang baik pada pelanggan Anda :

1. Kenali siapa pembaca Anda

Ini bisa dikira-kira dengan membaca media mana yang akan Anda kirimi naskah tulisan. Misalnya harian Kompas, terkenal dengan gaya bahasa yang halus, tidak meledak-ledak, reflektif dan banyak data. Berbeda dengan harian Jawa Pos, yang lebih suka tulisan yang langsung menuju sasaran (to the point), lugas, tembak langsung.

Bila Anda ingin mengirim ke media online yang interaktif, maka bisa dipelajari dari komentar-komentar yang masuk. Misalnya di media citizen journalism – wikimu.com, pembaca yang adalah orang-orang yang menyukai bahasa yang santun, gaya bahasanya seperti bertutur, perbedaan pendapat oke tanpa mesti menjadi masalah personal, sensasi bukan yang utama namun kebergunaan informasi jauh lebih disukai, mengangkat topik-topik yang unik atau masalah keseharian.

Suasana yang berbeda akan Anda temui bila berkunjung media online yang lain. Ada yang sangat ketat dalam berbahasa, sampai ada yang sumpah serapah pun bisa masuk. Setiap media dan komunitas, pasti mempunyai ciri masing-masing.

2. Anda bukan selebriti, maka menulislah sebagai orang biasa
Maksudnya tidak semua orang mengenal Anda. Tidak semua orang tahu di mana Anda tinggal atau apa pekerjaan Anda. Tidak semua orang mengikuti tulisan-tulisan Anda terdahulu. Jadi setiap kali menulis, bayangkan pembaca baru pertama kali membaca tulisan Anda.

Misalkan Anda menulis tentang sebuah topik, jangan lupakan keterangan waktu, tempat.

Contoh :
“Warung bakso di kampus saya sangat enak lhooo”. — Emang kampus situ di mana?
• “Pas saat buka puasa lalu, saya bertemu Menteri”. — Lha puasa itu 30 hari, tolong tanggalnya ya.
• “Saya suka berjalan-jalan di mal bersama si Kucrit”. — Kucrit itu siapa sih? Suami, istri, anak atau pembantu?
• dsbnya

Kita sering lupa menambahkan keterangan kota (contoh: Jakarta). Misalnya menulis belanja pakaian di Kuningan, Depok, jalan Sudirman dstnya. Padahal Kuningan ada juga di Cirebon, Depok ada juga di Jogja. Jalan Sudirman, hampir setiap kota di Indonesia mempunyai jalan ini.

3. Menulislah dengan ejaan yang enak dibaca
Kita kan pengen tulisan dibaca orang, maka ketika menyusun huruf-huruf pun ditata dengan enak. Misalnya nih, di kalangan remaja sering menulis kalimat dengan campuran huruf besar kecil : sUatu haRi kamI PleSir ke kOta tua. Kalau medianya untuk remaja ok-lah. Tapi kalo rentang pembacanya dari tua sampai remaja…pasti pembaca yang tua-tua udah pada malas membaca yang beginian.

Lalu ejaan dan istilah yang dipakai. Usahakan mendekati ejaan yang baik dan benar. Karena ini ejaan yang universal dipakai, dari Sabang sampai Merauke. Misalnya nih, menuliskan waktu. Kita kadang lupa, Indonesia terbagi dalam 3 wilayah waktu. Maka keterangan WIB, WITA atau WIT itu penting dicantumkan, agar pembaca tidak salah mengerti.

4. Bantulah pembaca berimajinasi
Kalau kita menceritakan sesuatu/peristiwa, bantulah pembaca mampu membayangkan suasana atau kejadian tersebut. Misalnya tentang kuliner, kalau Anda ingin mengunggulkan kelezatan masakan tersebut, coba lukiskan dalam kata-kata rasa ketika Anda mengudapnya. Manis, asin, pedas, meleleh di lidah, berlinangan air mata, liurpun menetes, empuk, renyah, gurih, dsbnya. Kata-kata itu akan membantu pembaca merasa ikut dalam kuliner.

Atau ketika Anda mengunjungi rumah sakit. Bisa digambarkan suasana rumah sakit itu, dengan kata-kata : tembok-tembok yang kusam, nampak lama tidak dicat, jendela yang berderit ketika ditutup, seprei yang sudah tidak jelas lagi warna dasarnya putih atau kuning, lantai keramik yang berdebu, dstnya. Pembaca akan bisa membayangkannya.

5. Berilah informasi selengkap mungkin
Pembaca biasanya malas membaca tulisan bila hanya sepotong, tidak lengkap. Tulisan tidak mesti panjang-panjang, singkat tapi penuh informatif. Contoh yang paling sering adalah ketika menulis kuliner. Para penulis sering lupa menuliskan alamat / lokasi tempat kuliner ataupun harga makanan di situ. Padahal itu informasi paling dicari pembaca kuliner.

Ini sekedar tips dari aku. Tentu ini tidak lengkap. Teman-teman bisa menambahkan lagi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Ini hanya bagaimana menulis yang lengkap dari sudut pembaca. Soal gaya penulisan, topik, cara merangkai kata, adalah selera masing-masing penulis. Hal-hal di atas, bisa dipakai di semua jenis, topik maupun gaya tulisan.

Yang penting, ketika kita menulis, tanamkan kesadaran, bahwa kita sedang melayani pembaca. Layani-lah pelanggan/pembaca kita dengan memuaskan!

(Bajoe/Wikimu)

Iklan

One thought on “Pembaca adalah Pelanggan

  1. Ping balik: しゅくだい (PR) « komuter jakarta raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s