Iklan Politik yang Bias Kota

“Andaikan Rizal Mallarangeng bergeser ke tengah sedikit, tidak terlalu ke kanan,” kata seorang kawan, “saya akan memilih dia sebagai presiden.” Kawan saya tadi, sambil terus mengulang-ulang tagline, generasi baru-harapan baru, mengaku terpikat setelah melihat iklan Rizal Mallarangeng ditayangkan televisi. Kolega saya ini bisa jadi terkena apa yang disebut dengan efek Siulan Pak Tua Beruban.

Siulan Pak Tua Beruban ini sering dipakai sebagai tes untuk mengetahui apakah sebuah iklan atau lagu akan tertanam di kepala publik atau tidak. Intinya, seseorang yang sudah tua dan rambutnya memutih diperdengarkan sebuah iklan atau lagu baru, setelah itu pak tua tadi dipersilahkan pulang. Dalam perjalanan pulang, dia akan awasi dan jika dia mengucapkan tagline iklan itu atau bersiul menirukan lagu baru yang didengar tadi, maka besar kemungkinan iklan atau lagu itu akan diperhatikan publik. Itulah yang terjadi dengan iklan Rizal Mallarangeng, setidak-tidaknya kawan saya tadi bisa jadi contoh kasus.

Saya sendiri tidak melihat ada sesuatu yang ditawarkan dalam iklan Rizal Mallarangeng. Tapi mungkin seperti itulah seharusnya iklan dibuat: jangan buat janji nyata tapi buatlah impian. Nah, dari sudut ini Rizal Mallarangeng, tepatnya iklan politiknya, bisa disebut berhasil menarik perhatian publik. Bahkan, kawan saya tadi, terpesona dengan suara berat dan tampangnya yang gagah. “Sebagai pribadi, Rizal mempesona,” begitu katanya.

Iklan politik Soetrisno Bachir juga begitu. Seri pertama iklan ketua umum PAN itu berhasil mencuri perhatian publik dengan tagline: hidup adalah perbuatan. Iklan yang terus diulang-ulang akan terekam kuat di kepala penonton, meskipun seri kelanjutan iklan ketua umum PAN itu mencoba menghindari tagline: hidup adalah perbuatan. Tampaknya mereka lupa kekuatan iklan ada pada pengulangan. Bahkan, ketika orang sudah mulai muak dengan iklan itu, karena kelewat sering ditayangkan, iklan itu justru tertanam makin dalam di kepala orang. Lagu yang paling ingin dilupakan adalah lagu yang paling tidak ingin diingat. Itu pula yang terjadi dalam iklan.

Di luar iklan Rizal Mallarangeng dan Soetrisno Bachir, saya sulit untuk menemukan iklan politik yang bertenaga dan bisa tertanam dalam di kepala banyak orang. Ada iklan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Partai Demokrat yang sempat muncul beberapa kali di televisi. Tapi entah kenapa hanya ditayangkan beberapa kali lalu menghilang. Akan halnya iklan Partai Gerindra yang secara teknis digarap dengan lumayan bagus, membawa pesan terlalu berat dan tidak memiliki semboyan, setidak-tidaknya semboyannya terlalu sulit untuk diingat.

Pertanyaannya saat ini adalah apakah iklan politik yang ditayangkan di televisi itu mampu menjangkau seluruh penonton televisi di banyak tempat? Rizal Mallarangeng dan Sutrisno Bachir tampaknya percaya betul bahwa televisi memiliki kekuatan mahabesar untuk mengirim pesan ke banyak orang dalam waktu singkat di banyak tempat. Tidak ada yang salah dari keyakinan itu, hanya mereka lupa bahwa iklan yang dia buat, sekalipun menampilkan tokoh orang kebanyakan, masih bias perkotaan yang bisa dicerna hanya oleh orang seperti kawan saya tadi. Penggunaan bahasa Inggris adalah salah satu di antara yang bias kota besar itu.

Karena itu saya percaya iklan politik Rizal Mallarangeng dan Soetrisno Bachir hanya mampu membuat keduanya popular di perkotaan, jika tidak ingin mengatakan hanya di Jakarta. Jadi kalau ingin jadi presiden, mereka yang menggunakan media televisi untuk berkampanye harus pandai-pandai membuat pesan iklan yang mendesa dan, ini tak kalah pentingnya, jangan lupa mengirim pesan mengenai gagasan tentang Indonesia yang diinginkan. Sepanjang yang saya lihat belum ada iklan politik di televisi yang secara tegas menyebutkan gagasan yang akan dikerjakan jika terpilih menjadi presiden.

Rahman Andi Mangussara
Kepala Produksi Berita Liputan 6

sumber: liputan6.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s