Gerak Cepat Rizal Mallarangeng

If there is a will, there is a way. Sebuah kalimat yang belakangan ini sering kita simak di layar televisi, apalagi kalau bukan iklan kampanye tokoh muda yang bakal maju dalam Pilpres 2009, Rizal Mallarangeng. Pada beberapa artikel sebelumnya, aku juga sempat sedikit mengulas tentang “RM09”. Kemarin, Rizal Mallarangeng memulai “kampanye” politiknya di kawasan Jatim, tepatnya di Kota Batu. Berikut beritanya seperti aku lansir dari harian MalangPost.

Akbar Tanjung dan Rizal ‘RM09’ Mallarangeng, siap maju bersama-sama sebagai calon presiden melalui partai Partai Golkar. Meski peluang konvensi calon presiden di partai Golkar kecil kemungkinan di gelar, keduanya berharap konvensi dapat digelar.

Hal itu diungkapkan keduanya secara terpisah, usai mengikuti diskusi kerakyatan yang digelar Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kota Batu di gedung KUD Batu, dengan tema Selamat Datang 2009 gemah ripah loj jinawi. Keduanya bersama Samuel Koto, Didik Machmud, M. Yusuf Rizal, dan Samsul Bahri menjadi nara sumber dalam diskusi menyambut Pemilu 2009.

“Saya akan maju sebagai Capres dalam Pemilu 2009 mendatang. Jika jalur independen tidak dapat diakomodir, saya akan maju melalui Partai Golkar,” kata Rizal kepada Malang Post, kemarin. Tampilnya Rizal dalam bursa Capres 2009 untuk memberikan alternatif baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional. Sejak 10 tahun terakhir, pilihan kepemimpinan nasional tidak banyak berubah, Gus Dur, Amin Rais, SBY dan lainnya. Meski nama-nama baru akan muncul kembali ke permukaan dalam Pemilu mendatang.

Tapi, bangsa ini perlu wajah-wajah segar. Sebagai bangsa besar yang dinamis berjalan mengikuti perubahan zaman dengan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan yang baru.

Sudah saatnya generasi baru kepimpinan bangsa Indonesia turut serta dalam penentuan kehidupan bersama pada level politik tertinggi.

“Saya menghormati tokoh-tokoh senior. Tapi, perkenankan kami untuk maju. Jangan hanya kalian saja, beri kami kesempatan yang muda untuk memimpin bangsa ini,” ungkapnya.

Sejak beberapa minggu ini, nama Rizal Malarangeng semakin sering muncul di televisi. Tanpa dukungan partai politik, Rizal memang berkomitmen menjadi calon presiden independen. Iklan itu sebagai bentuk pengenalan yang dilakukan RM 09 kepada masyarakat Indonesia secara luas. Dengan semboyan kampanye yang sudah diperkenalkan kepada masyarakat, if there is a will, there is a way (jika ada kemauan, ada jalannya).

“Soal berapa banyak partai yang akan mendukung saya nantinya, semua tergantung dengan Bang Akbar Tanjung,” jelasnya, sambil melirik ke Akbar Tanjung yang sama-sama akan maju dari Partai Golkar.

Meski dikotomi calon muda dan tua sudah menjadi wacana yang berkembang ditengah masyarakat, tidak menyurutkan mantan Ketua DPP Golkar, Akbar Tanjung untuk maju dalam bursa kepemimpinan nasional tahun 2009.

Masih ada waktu delapan bulan baginya untuk mempertimbangkan kembali akan menduduki posisi mana, presiden atau wakilnya. Akbar akan maju melalui Partai Golkar bila mekanisme konvensi dilakukan. Jika tidak, dia sudah bersiap-siap untuk maju dengan kendaraan Parpol lainnya.

“Kalau peluang saya sangat kecil di Partai Golkar saya akan maju dari partai lain. Saya tetap berharap mekanisme konvensi tetap dilakukan. Itu semua tergantung institusi DPP yang menentukannya,” tegasnya.

Akbar juga sempat menyentil Rizal yang masih belum memiliki banyak pengalaman untuk kepemimpinan nasional. Untuk memimpin bangsa ini harus memiliki banyak pengalaman.

“Silakan yang muda maju, yang senior pun juga silahkan maju. Rakyatlah yang akan menentukan nantinya. Buktikan pada rakyat pengabdian yang telah dilakukan pada rakyat,” tandas mantan ketua PB HMI itu. (aim/avi/muhaimin/sumber: MalangPost)

Iklan

5 thoughts on “Gerak Cepat Rizal Mallarangeng

  1. Biarlah mereka saling menghargai dan menghormati, dan saling menghidari perdebatan mengenai pribadi. Saling mengisi didalam perdebatan yang berguna bagi bangsa dan negeri tercinta.

  2. saya pikir ini adalah langkah maju kaum muda ujntuk tampil mengimbangi munculnya tokoh-tokoh tua yang selama ini udah karatan dalam belantika dunia perpolitikan nasional. Kita butuh tokoh muda, new comer, darah segar, tidak berbelenggu kepentingan rezim di masa lalu. Salut dech terus maju

  3. Melihat acara todays dialog di metro TV kemarin (19 Agustus 2008).
    Yang diskusi Marwan Batubara, Rizal Malarangeng, Amien Rais dan Sofyan Djalil.

    Peserta diskusi sedang prihatin dengan kasus Freeport, Cepu, Newmont dan sebagainya, eh si Rizal malah ketawa-tawa sendirian untuk menutupi kesalahannya ikut campur urusan pertamina dan exon.

    Benar-benar Rizal tuh mental inlander antek asing. Dikit-dikit belain amerika. Mungkin maksudnya untuk pamer kalau dia lulusan amerika.
    Inilah contoh orang yang sudah kena brain wash-nya amerika.

    Dia nggak pantes tuh mencalonkan jadi capres Indonesia. Orang model Rizal harusnya masuk penjara, karena doyan menggadai kekayaan Indonesia ke asing.

  4. secara terbuka, setiap kita syah ingin melakukan perbaikan terhadap negeri ini, baik dengan maksud baik maupun tidak baik, baik dengan cara baik maupun tidak baik, jika ada keinginan baik maka ada jalan baik, jangan pernah menilai seseorang dengan kacamata “jahat” kita….., salah salah kitalah yang jahat.

  5. Pemimpin seperti apa?

    Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s