Jadi Pembajak atau Follower?

Blogger memang bukan penulis, penulis dalam arti kata formal. Kebalikannya, penulis juga belum tentu seorang blogger. Tapi ada satu kesamaan antara penulis (editor, wartawan, atau jurnalis) dengan blogger, yaitu apa yang mereka tulis dibaca oleh publik. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, blogger, seperti halnya wartawan media cetak atau elektronik (online) dituntut mempertanggung jawabkan apa yang mereka tulis kepada publik.

Dalam dunia blog, ternyata yang wajib “bertanggung jawab” bukan hanya penulis, yang bisa jadi merupakan si empunya blog, tapi juga pengunjung (pembaca) yang mengisi komentar. Tidak sedikit komentar-komentar “ngaco” yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, atau SARA masih simpang siur di dunia blog. Bukan hal baru sih, karena sebelumnya hal ini sudah jamak terjadi pada milis-milis dan forum-forum yang lebih dulu eksis dibandingkan blog.

Kesadaran dan pentingnya etika menulis, bagi blogger maupun komentator, harus labih diperhatikan lagi. Selain hal-hal berbau violence, yang juga marak terjadi adalah aksi pembajakan. Masih banyak penulis blog yang asal comot dan asal copy-paste materi dari blog lain, bisa berupa tulisan, foto, gambar, video, bahkan “konsep” dan gaya tulisan seseorang. Hmm… kalau sudah jadi “wartawan” blog, kenapa masih harus menjiplak wartawan (blogger) lain?

Bisa sih kita mencantumkan sumber berita atau foto pada setiap tulisan kita, agar tidak disangka membajak. Namun bagaimanapun juga, tindakan copy-paste (seluruhnya, tanpa editing sama sekali) adalah hal yang sangat menggelikan. Bukankah kita bisa menyadur atau menyuntingnya tanpa merubah makna asli, tentunya dengan gaya bahasa dan gaya penulisan kita sendiri.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa budaya kita masih sangat kental dengan yang namanya bajak-membajak, mulai barang hingga ide/konsep. Tidak masalah memang, asal hal tersebut membuat kita lebih kreatif, tidak asal ngekor. Kreatifitas akan jauh lebih bermanfaat apabila di“gethuk tular”kan, kita jadi semakin kreatif, orang lain (yang meniru) pun memperoleh ilmu dari kita sebagai korban “pembajakan”.

Jadi, sampai kapan jadi pembajak dan “follower” ?

Iklan

One thought on “Jadi Pembajak atau Follower?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s