Between Girls and Football


Viva Espana…

Piala Eropa 2008 di Austria Swiss memang telah usai, tapi banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya dari gelaran sepakbola paling bergengsi di Benua Biru tersebut. Selain tentunya di lapangan hijau -dimana tim Matador Spanyol meraih trofi Henry Delaunay- banyak hal-hal menarik di luar lapangan yang kadang luput dari perhatian kita. Ya… bagaimana sepakbola -khususnya di Eropa- telah membuat masyarakatnya berbaur dalam satu “agama”, melupakan asal usul, ras, bangsa, negara, strata sosial, hingga gender.

Berbicara seputar gender, meskipun kata orang sepakbola adalah olahraganya laki-laki, tapi dewasa ini fans cewek tidak kalah atraktif dengan kaum Adam, “pemilik” sepakbola. Semakin banyak saja fans cewek yang datang ke stadion melihat aksi2 pemain sepakbola -cowok- pujaan mereka.

Awalnya, para suporter kaum hawa ini memang melihat sepakbola dari sisi pemainnya. Tampang keren, macho, bodi atletis, dan pernak-pernik maskulin yang dimiliki atlet sepakbola mengundang kaum hawa semakin ingin “mendalami” dunia sepakbola. Bahkan, WAG’s sudah menjadi bagian dari pesepakbola itu sendiri.

Di luar itu, FIFA pun merespon “emansipasi” wanita dalam dunia sepakbola dengan menggelar Piala Dunia sepakbola wanita sebagai kalender FIFA. Dalam beberapa tahun terakhir ini, tercatat timnas Amerika, Brasil, dan Norwegia adalah “ratu” di pentas sepakbola wanita dunia.

Hal tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari suksesnya negara-negara Eropa membungkus sepakbola sebagai sebuah industri bernilai milyaran Euro. Imbasnya tentu ke negara-negara di belahan dunia lain, mulai Amerika Selatan, Amerika Utara, Afrika, hingga Asia. Piala Eropa kemarin pun disiarkan langsung ke hampir 180 negara.

Dengan orientasi sepakbola industri, tentu yang dilakukan adalah bagaimana mengemas sedemikian rupa agar segala sesuatu yang “berbau” sepakbola laku dijual. Piala Eropa 2008 mengerti benar tentang hal ini, dan Michel Platini -Presiden UEFA- tentu akan sangat bangga dengan hasil kerjanya di tahun 2008 ini.


Sverige’s girl


Cewek-cewek suporter Swedia


Beda negara tapi akrab…

Di Euro 2008, semua berbaur. Orang-orang berambut pirang dan bermata biru dari kawasan Skandinavia dan Jerman, cewek-cowok berambut gelap bermata coklat dari kawasan Eropa Selatan (Portugal, Spanyol, Perancis, Italia), cewek-cewek dari salju Rusia, hingga pendukung Turki dengan wajah Arabnya yang sangat khas.

Alangkah indahnya membayangkan menonton pertandingan sepakbola di stadion bersama seluruh rekan kita, baik cowok – cewek, tanpa rasa takut akan kerusuhan seperti halnya yang masih sering menjadi tradisi pada dunia persepakbolaan kita.

Bagaimana rekan-rekan suporter sepakbola Indonesia? Kapan kita meniru suporter Eropa? Masihkah kita menjadi “alat” politik para penguasa dengan label sepakbola berbungkus klub “plat merah”?

Iklan

One thought on “Between Girls and Football

  1. Hi, I do believe this is an excellent web site.

    I stumbledupon it ;) I’m going to return once again since i have book marked it. Money and freedom is the greatest way to change, may you be rich and continue to guide other people.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s