“Haram”nya Sebuah “Kasih Sayang”

Hari Valentine, 14 Februari (kemarin) aku sempat keliling-keliling kota Malang dan menjumpai pemandangan yang hampir tiap tahun ada, penjual bunga dan pernak-pernik valentine di tiap sudut jalan, terutama di daerah mall, sekolah, dan kampus. Karena kebetulan aku bawa kamera, dan kebetulan lagi ketemu dengan kawan lama, Suharto “Mas Tarho” yang jadi fotografer Jawa Pos Radar Malang, aku sempatkan juga motret aktivitas hari kasih sayang tersebut.

Setelah selesai jeprat-jepret, aku sempatkan ngobrol dengan salah satu penjual bunga, namanya Didik. Dia mengaku sudah dua tahun terakhir ini berprofesi sebagai penjual pernak-pernik valentine setiap tanggal 14 Februari. Usahanya ini dirintis patungan bersama beberapa orang temannya yang pada saat itu juga menjajakan bunga dan coklat velentine di Jalan Veteran depan kampus Universitas Brawijaya.

Penjual bunga Valentine
penjual bunga valentine di depan kampus Univ.Brawijaya (foto oleh zoel)

Didik mengaku dari tahun ke tahun ada peningkatan omzet penjualan pernak-pernik valentine. Sasaran pembelinya tentu saja kalangan pelajar SMA dan mahasiswa. Bunga mawar (baik yang imitasi maupun yang asli), coklat, kartu ucapan, dan kado adalah beberapa pernak-pernik valentine yang paling banyak dicari.

Apakah Didik dkk sudah tau kalau perayaan valentine difatwa haram oleh MUI? Dengan tegas dia jawab: TAU. Wah, update juga informasi orang ini, pikirku… Ketika aku tanya pendapatnya tentang fatwa haram tersebut, dengan sedikit diplomatis dia menjawab, “Tergantung orangnya Mas, kan tidak semua orang merayakan valentine, tidak sedikit juga orang Islam yang juga ikut bervalentine meskipun cuma dengan simbol bunga dan coklat. Momen ini juga menjadi penghasilan tambahan untuk saya dan teman-teman, toh berjualan bunga dan coklat tidak haram.”

Hmm… sebuah ungkapan polos Didik, seorang pemuda pengangguran yang mencoba memanfaatkan momen hari kasih sayang untuk mengais rejeki yang halal. Fatwa haram MUI terhadap perayaan valentine memang benar menurut Agama, tapi disaat bersamaan, dimana rasa “kasih sayang” MUI kepada orang-orang marginal yang selalu berusaha mempertahankan hidup?

Fatwa “haram” pun seakan semakin akrab dengan MUI. Ajaran ini haram, pendapat itu haram, valentine haram, hari ini haram, hari itu haram, lama-lama ngeblog juga haram… :D

Valentine, bila dimaknai dari sisi agama, tidak akan pernah menemui kata sepakat sebagaimana perbedaan dua agama tersebut, tapi bagaimana apabila kita melihat valentine dari sisi sosial? Valentine tak ubahnya tahun baru, Imlek, Natal, Idul Fitri, Kuningan, dll. Ingin merayakan monggo… tidak juga monggo… bukankah merakayan hari raya itu hukumnya sunnah?

Saya pribadi memang tidak bervalentine, tapi dikasih coklat ya mau… sebagaimana saya tidak merayakan imlek tapi dikasih opor dan tahu cap go meh. Semua kembali ke hati & keyakinan, karena Tuhan tidak butuh yang namanya bunga, coklat, opor ketupat, atau bahkan pohon cemara dengan salju dan lampu kelap-kelip. (zoel)

Merasa paling benar sendiri adalah sikap yang jauh dari ajaran Islam, yang secara tegas menyatakan: “wa fawqa kulli dzi ‘ilmin alim” (di atas orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu). Di luar klaim kebenaran, ada kebenaran. (Luthfi A)

Iklan

11 thoughts on ““Haram”nya Sebuah “Kasih Sayang”

  1. wahh tulisannya keren bangett….

    MUI nih emang aneh-aneh aja, taunya cuman mengeluarkan fatwa haram,apa nggak ada perkerjaan yg bisa lebih berguna/bermanfaat buat rakyat khususnya rakyat kecil selain ngeluarin fatwa?? klo hal sekecil valentine dikeluarin fatwa haram, berarti MUI kudu siapkan buku tebal untuk nulis target-target yang bakal di keluarin fatwa haram termasuk fatwa haram untuk ngeblog, dan kita bangsa indonesia siap-siap hidup di jaman batu. :P

  2. @ otnayida :
    ngeblog sekaligus khotbah sam, hahaha… lha soale pas jumatan gak oleh “interupsi”, jadi yo lewat blog ae, oyi? :D

    @ alearch :
    waduh ale jgn manas2in MUI dunk, ntar difatwa haram beneran habis deh karya2 blog kita semua, trus para blogger ngapain dunk… hikz… ^^

  3. @zoel :

    iyah juga yah… trus klo blogger difatwain haram ama MUI.. kita2 para blogger dapet duit/makan dari mana yah??

    huehueheuheeh just kidding

  4. Tapi klo didepan khalayak ramai gpp njul seperti kata Imam Al-Bukhori
    يخلو الرجل بالمرأة عند الناس باب ما يجوز أن
    “Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita jika di hadapan khalayak�?” (maaf klo ada pengejaan yang salah) wah tapi ini klo ceweknya halal untuknya. Tapi yang penting mak nyus lah, cinta n zina beda tipis njul (sulit membedakan). Oh ya add me di blogrollmu ya. Ngeblog trus, tancap men……………….

  5. hehe.. coklat enak rasane.. luweh enak kalo ga’ cuma tanggal 14 tapi tiap hari hehe..
    begitu juga dengan cinta n kasih sayang, gak hanya dihari valentine, tapi semua hari sama. kita harus saling mencintai n berbagi dengan sesama :)

  6. thumbs up,
    sbnrnya haram ato tidak itu trgntng bagaimana cara kita memandangnya, right ?
    :)

  7. waaah sebagian besar memang langsung menyatakan valentine haram, berhubung saya termasuk orang yang bodoh, jadi saya mungkin menurut sebagian kecil saja yang menyatakan valentine boleh asal tidak melenceng dengan kaedah islam.

    saya juga menuliskan hal yang sama tentang seputarr valentine di blog saya beserta alasan mengapa saya termasuk yang sebagian kecil.

    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s