Media yang Mengecewakan

Kalau boleh, saya ingin bertanya kepada media cetak dan televisi yang memberitakan kerusakan pasca kerusuhan Kediri hari Rabu kemarin lusa. Dengan gagahnya mereka memberitakan kendaraan & rumah-rumah di Kediri dirusak oleh Aremania. Jelas sangat mudah menulis sebuah “akibat” seperti itu. Kenapa hanya kerusakan-kerusakan pasca pertandingan? Kenapa wartawan tidak meliput “akibat” lain dari kerusuhan itu? Apa yang akan mereka lakukan apabila mobil & kamera mereka dilempari batu oleh orang sekampung? Apa yang akan mereka lakukan ketika memasuki sebuah “area perang” yang telah “disiapkan” lawan?

Kalau dari awal Aremania berniat “perang”, kami tidak akan berangkat ke Kediri dengan menggunakan bus dan mobil pribadi. Kami tidak akan bermewah seperti itu, tapi cukup nggandol atau naik truk, tentunya juga menyiapkan senjata, pentungan, atau batu. Tapi kami tidak melakukan hal itu, karena kami berangkat ke Kediri dengan iktikad baik ingin mendukung tim kesayangan, Arema.

Bagi Aremania, kalah-menang adalah hal biasa. Sudah terbukti ketika pertandingan Super Copa di Sidoarjo ketika Arema kalah 1-2 dari Persik Kediri, aman-aman saja. Bahkan ketika Arema kalah 0-1 dari Persipura di kandang untuk pertama kali sejak 4 tahun, Aremania tidak ngamuk. Kenapa? Karena kekalahan dan kegagalan tersebut dilalui secara “wajar”.

Tapi ketika sebuah kezoliman menelikung Arema, apalagi dilakukan di depan mata Aremania, siapa yang tidak tergerak? Kejadian di Kediri kemarin membuktikan hal itu. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Tindakan anarkis Aremania sebagaimana yang diberitakan media adalah sebuah reaksi atas sebuah aksi.

Bukan kemenangan yang menjadi harga mati kami. Meskipun Arema kalah, asalkan “wajar”, Aremania tidak akan brutal & anarkis seperti terlihat di televisi dengan menghancurkan Stadion Brawijaya Kediri.

Satu lagi yang perlu dicatat adalah kerusuhan awalnya hanya terjadi di dalam stadion. Ketika Aremania keluar stadion, tidak ada pedagang atau toko yang dijarah. Tidak ada kendaraan plat “AG” yang diserang. Tetapi ketika rombongan perjalanan pulang, kami diserang secara membabi buta, seluruh rombongan Aremania, tidak peduli bis, mobil pribadi, bahkan sepeda motor menjadi korban.

Saat perjalanan pulang, Aremania tidak akan balik membalas aksi lemparan oknum Persikmania yang menyerang rombongan Aremania kalau tidak diserang terlebih dahulu. Kenapa mereka (oknum Persikmania) bersembunyi di balik kegelapan malam, gang-gang, kebun, sawah, dan rumah-rumah penduduk? Apakah padamnya lampu seluruh kampung telah direncanakan sebelumnya? Kami tidak berbekal senjata apapun. Mereka dengan senjata batu dan ketapel menghancurkan bis & mobil kami. Sekali lagi, kejadian kemarin adalah reaksi atas sebuah aksi.

Bagi masyarakat kabupaten Kediri yang menjadi korban kejadian kemarin, kami memohon maaf. Kami tidak dengan secara sengaja merusak rumah maupun properti lainnya. Kami hanya membalas ketika kami diserang. Dan dalam sebuah “medan perang” yang telah terencana seperti itu, semua kemungkinan bisa terjadi & semua bisa menjadi korban.

Kejadian tersebut telah berlalu, waktu tidak mungkin mundur ke belakang. Sedikit ulasan flash-back di atas semoga bisa menjadi renungan kita bersama. Melalui Satujiwa.net, Aremania Cyber dan OngisNade.Net menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

PERNYATAAN SIKAP AREMANIA SATU JIWA

Kami Aremania datang ke Kediri untuk mendukung tim kebanggaan kami Arema Malang yang berlaga di Babak 8 Besar Liga Indonesia 2007.

Kami mengucapkan banyak terima kasih dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa yang terjadi kemarin.
Tidak ada sedikitpun dalam benak kami Aremania untuk berperang atau membuat resah masyarakat Kediri. Peristiwa itu terjadi sebagai bentuk reaksi atas sebuah aksi yang terjadi di lapangan.

Demikian pernyataan sikap kami sebagai bentuk itikad baik kepada masyarakat Kediri dan sekitarnya.

tertanda,
Aremania Satu Jiwa
http://www.satujiwa.net

Iklan

8 thoughts on “Media yang Mengecewakan

  1. ayo njaluk sepuro bareng yuk!
    tidak secara maya tapi hadir secara fisik di kediri
    njulz I hope you’ll talk it to others, yo opo usulanku iki, terus terang kami aremania yang di kediri, gak uuueeenak rasane, masalahnya gak ada yang similiar as me, kami minoritas, dihujat, dan menghela nafas panjang.

  2. oyi Wick, usulmu akan ayas teruskan kpd para pentolan Aremania sing ayas kenal, infonya nyusul yo, di blog, milis, atau langsung sms/telp :D eh, artikelmu ndi? ga ono di email lho, attach ae yo… SALAM SATU JIWA

  3. usul seng apik sam, tapi butuh pertimbangan juga.. yang jelas aremania dimanapun berada menjadi ‘miring’.. Semuanya sudah berlalu.. tapi yang penting sama-sama introspeksi diri..dan fokus membangun nama aremania. Bagaimanapun dan apapun masalahnya.. Aremania Pasti mendukung Arema. Aremania ada dimana-mana. Salam satu Jiwa!

  4. Ping balik: PSSI Ternyata Jauh Lebih Anarkis « OngisNade.Net

  5. saya mengerti kalau tulisan saya di atas sangat subjektif, untuk mendukung subjektifnya tulisan di atas, di bawah ini ada yg subjektif lagi, berita dari media Kediri, diambil dari sini http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=191411&c=61

    Malam Mencekam Warga Kediri Akibat Ulah Brutal Aremania

    Seperti Perang, Pistol Polisi Meletus Beberapa Kali
    Bukan sekali ini warta Kediri merasakan ulah brutal Aremania, suporter kesebelasan Arema Malang. Pada 2003 lalu juga terjadi hal serupa. Dan seperti 2003 silam, aksi brutal Aremania tersebut menjadi teror tersendiri bagi warga Kediri. Kerusakan pun tak terhindarkan.

    SRI UTAMI-HERI MUDA, Kediri

    Muhammad Agus duduk tenang di ruang tamu rumahnya. Pemuda asal Kelurahan Bence, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri tersebut cuek walaupun kaca jendela ruang tamunya bolong. Matanya tetap asyik melihat siaran televisi yang ada di depannya.

    “Beberapa tahun lalu rumah ini juga dilempari batu oleh Aremania. Kaca depan juga pecah semua. Eh, kini terulang lagi,” katanya.

    Ya, rumah Agus adalah satu dari puluhan rumah yang rusak akibat ulah Aremania usai kerusuhan di Stadion Brawijaya Rabu malam lalu. Menurut pemuda 16 tahun ini, batu pertama yang nyasar ke rumahnya terjadi sekitar pukul 21.30. Batu-batu yang melayang ke arah rumah warga itu mengagetkannya. Ketika dia mengintip dari daun pintu kamar yang dibukanya sedikit, batu-batu itu datang dari ratusan Aremania. Kebetulan, belasan bus yang mereka tumpangi sedang berhenti.

    Awalnya, batu-batu sebesar kepalan tangan itu tak satu pun yang mengenai kaca. Hanya mampir di beranda. Ketika itulah Jamilati, ibu Agus, keluar rumah dan berteriak kepada gerombolan Aremania tersebut. ” Ojo diantemi mas, aku ora ngerti opo-opo (jangan dilempari, aku tidak mengerti apa-apa),” kata Agus menirukan ucapan ibunya saat itu.

    Ternyata, teriakan itu ampuh juga. Buktinya, gerombolan itu menghentikan ulahnya dan masuk bus. Kemudian mereka berlalu.

    Sayang, rombongan lain ganti berhenti. Tepat di depan rumah Jamilati. Mereka pun kembali ’berpesta’ lemparan. Lima batu pertama bisa masuk rumah setelah memecah kaca jendela. Agus dan Jamilati pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berusaha mencari perlindungan. “Saya shock. Tak menyangka rumah saya jadi korban,” aku pemuda SMA Al Huda Kediri ini.

    Sesaat setelah rombongan kedua pergi lagi, Agus dan ibunya dikejutkan oleh suara gaduh. Masih hanya berani mengintip, Agus melihat dua orang berkendara motor berplat N (plat Malang, Red) jadi korban amukan warga yang melakukan serangan balasan. Keduanya dipukuli beramai-ramai.

    Ternyata, seorang Aremania yang dikeroyok itu lari menuju rumah Agus. Meminta pertolongan. “Ampun Mas, tolong saya,” kata Agus menirukan permintaan korban yang mengaku bernama Munir itu.

    Agus ternyata iba juga melihat tubuh Munir yang babak-belur. Dia pun mempersilakan Munir masuk dan bersembunyi di rumahnya. Namun, setelah ribut-ribu mulai mereda, Munir kemudian digelandang ke kantor polisi.

    Bukan hanya warga Bence yang mengalami teror mengerikan semacam itu. Warga di sepanjang Jalan Imam Bonjol pun merasakannya. Seperti penghuni salon kecantikan di jalan itu yang bernama Acong Salon. Tempat tersebut mengalami kerusakan yang paling parah. Lemari kaca, kaca rias, dan pintu salon pecah karena lemparan kursi Aremania yang mengamuk dan masuk ke salon itu.

    Pemuda berusia 24 tahun itu sebelum kejadian sedang berdiri di depan salon melihat iring-iringan Aremania. Ketika bus berhenti, belasan Aremania turun dan masuk melakukan perusakan. Lemari kacanya pecah karena dilempar kursi. Acong pun memilih bersembunyi di belakang lemari. Sedangkan dua karyawannya lari ke belakang rumah.

    “Untungnya ada polisi lewat. Jadi Aremania langsung masuk ke bus lagi. Karena mereka brutal, saya bersyukur mereka kalah,” tandas lelaki yang rambutnya dicat warna emas ini.

    Bukan hanya warga kota, warga Kabupaten Kediri pun tertimpa nasib yang sama. Utamanya di jalur-jalur yang dilewati rombongan Aremania yang pulang ke Malang. Pengalihan jalan pulang, menjadi ke arah Blitar, membuat puluhan rumah di sepanjang jalur Kediri-Blitar, khususnya di wilayah Kecamatan Kandat hingga Ringinrejo, rusak.

    “Oalah Mas, saya sampek ketakutan,” terang Damirah, warga Desa Blabak, Kecamatan Kandat.

    Menurut Damirah, aksi perusakan terjadi sekitar pukul 22.00. Sebenarnya, sebelum kejadian, Damirah sudah mendengar akan lewatnya arak-arakan suporter sepak bola. Damirah juga diperingatkan tetangganya agar tidak keluar rumah. “Terose penontone ngamuk (katanya penontonnya mengamuk, Red),” ujar perempuan tua ini.

    Ternyata benar. Sesaat setelah masuk rumah, Damirah mendengar suara arak-arakan Aremania. Semakin dekat suaranya, Damirah juga semakin takut. “Pokoke misuh-misuh kaleh nantang tiyang mriki (pokoknya mengumpat-umpat dan menantang warga, Red),” ujarnya.

    Setelah itu, Damirah dikejutkan suara kaca pecah di rumahnya. Ketakukan pun terbukti, tiba-tiba Damirah dikejutkan dengan suara kaca pecah dari depan rumahnya. Batu-batu yang dipungut dari pinggir jalan oleh Aremania juga berterbangan ke atap rumahnya. Ketakutan, Damirah dan keluarganya bersembunyi di belakang rumah.

    Menurut Damirah, seumur-umur dia baru sekali itu melihat keberingasan suporter sepak bola. “Biasane enten, tapi mboten ngamukan kados niku (biasanya ada, tapi tidak mengamuk seperti itu, Red),” tandas perempuan tersebut sambil memotongi sayuran yang ada di tangannya.

    Di Kecamatan Ringinrejo, satu kantor bank perkreditan di dekat perempatan Sambi juga rusak terkena aksi anarkis Aremania. Sebagian besar dinding depan, yang terbuat dari kaca, hancur akibat lemparan batu. “Sebenarnya sempat mau dilawan sama warga, tapi tidak boleh sama polisinya,” ujar Samsul Hadi, satpam bank tersebut.

    Menurut Hadi, suasana di perempatan Sambi pun mencekam layaknya perang. Bahkan beberapa kali letusan pistol polisi juga menyalak untuk membubarkan aksi brutal para Aremania tersebut. Para Aremania baru berhasil dihalau sekitar tengah malam. “Ya sekitar pukul 01.00 baru sepi,” tandas Hadi yang saat itu mengaku juga nyaris terkena lemparan batu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s