Loyalitas dan Profesionalisme

Era kepelatihan Miroslav Janu di Arema telah berakhir, ironisnya Janu meninggalkan skuad Arema sebelum kompetisi “benar-benar” usai. Kontrak Janu di Arema berakhir per 31 Desember 2007, tetapi karena Arema lolos ke babak delapan besar, mau tak mau seluruh pemain dan pelatih belum bisa istirahat karena Arema masih akan melakoni laga babak delapan besar pertengahan hingga akhir Januari ini.

Secara klausul kontrak, bahkan sejak uji coba pertama seminggu yang lalu melawan Persikubar Kutai Barat, Janu sudah tidak lagi terikat dengan Arema. Janu masih memegang kendali di Arema karena masih menunggu jawaban perpanjangan kontrak dari manajemen.

Tetapi ketika negosiasi kontrak tersebut tidak menemui kata setuju, maka Arema pun tidak meneruskan kerjasamanya dengan Janu, sementara Janu sendiri secara de jure dan de facto sudah tidak lagi menjadi bagian dari tim Arema.

Dalam kasus ini, yang perlu digaris bawahi di sini adalah Miroslav Janu tidak mundur dan tidak dipecat oleh Arema. Kontrak Janu di Arema memang telah habis per 31 Desember 2007 yang lalu.

Dari sisi profesionalisme, hal in tergolong wajar. Karena pergi setelah kontrak habis adalah hak setiap pelatih (dan juga pemain), mirip seperti kasus Bosman Transfer. Menarik di simak komentar mantan pelatih Arema, Benny Dollo, dilansir dari Malang Post:

Itu (kasus Miro) bisa terjadi karena kultur yang berbeda antara orang timur dengan asing. Kalau kultur timur, mungkin saja dia tidak mundur, karena nggak enak mendekati delapan besar. Tapi bagi orang asing, tidak ada sikap ewuh pakewuh itu.

Bagi orang asing, profesionalisme mengalahkan segalanya. Jika kontrak dia habis dan tidak ada kata sepakat untuk perpanjangan kontrak, dia langsung bisa tinggalkan tim.

Itulah sebabnya, banyak pemain maupun pelatih asing, perpanjangan kontrak dilakukan sebelum masa kontraknya habis. Salah satunya, untuk menghindari hengkangnya mereka.

Banyak kasus pemain asing yang langsung saja pergi dari tim, ketika kontraknya habis, meski kompetisi masih berjalan. Jadi, dari sisi profesionalisme, wajar Miro memilih hal itu (mundur). Meski bagi kita, hal itu dianggap tidak wajar dan tidak tahu terima kasih. Kita harus bisa menghargai profesionalisme seseorang.

Sesuai dengan judul di atas, loyalkah Janu? Jawabannya adalah loyal. Bagaimana Janu membangun Arema sejak awal musim, dimulai dengan mendatangkan banyak pemain baru, masa-masa sulit di pertengahan musim hingga tuntuan mundur, konflik internal yang tidak kunjung selesai, hingga terakhir sukses membawa Arema ke babak delapan besar Liga Indonesia 2007. Bahkan ketika kontraknya sudah berakhir pada 31 Desember 2007 yang lalu Janu tetap mendampingi latihan dan pertandingan uji coba Arema vs Persikubar.

Pertanyaan kedua, profesionalkah Janu? Jawabannya adalah iya. Sama seperti komentar Bendol di atas, Janu adalah sosok pelatih asing (Eropa Timur) yang menjunjung tinggi profesionalisme kerja. Bagaimana dia tidak bergeming sedikitpun dari tuntutan mundur di paruh musim ketika prestasi Arema anjlok. Ketika jabatannya sebagai manajer-pelatih dipecah, Janu tetap konsen membesut Arema hingga berhasil membawa Singo Edan ke delapan besar.

Ayas secara pribadi sangat respek kepada Janu. Memang belum ada satu pun trophy yang diberikannya untuk Singo Edan di musim pertamanya di Malang. Tapi setiap menonton Arema bermain (terutama menonton langsung di stadion Kanjuruhan dan Gajayana) saya selalu merasa seperti menonton klub sepakbola “luar negeri”.

Kapan lagi kita bisa melihat permainan empat back-four yang flat khas Inggris? Atau permainan sayap yang mengandalkan dua full back dan dua winger? Atau permainan cepat satu dua sentuhan yang bergaya spartan dan mengandalkan power khas permainan sepakbola Eropa Timur? Secara langsung atau tidak langsung, Janu yang berasal dari Rep. Ceska telah menularkan ilmu sepakbola Eropa-nya ke Arema.

Ayas akan selalu merindukan saat-saat seperti itu. Terima kasih Miroslav Janu atas apa yang kamu berikan untuk Arema dan Aremania. Masih ingat apa yang dikatakan fans Arsenal ketika ditinggal “sang legenda” Titi Henry? Tak ada yang lebih besar dari Arsenal. Ya, pelatih dan pemain pergi adalah hal biasa, life goes on, dan sepakbola terus berjalan seiring bergulirnya bola dari kaki ke kaki.

Semoga Arema bisa meraih prestasi yang lebih baik lagi pasca Janu. Selamat tinggal dan terima kasih Janu, selamat datang dan selamat bertugas untuk Joko Susilo.

Salam Satu Jiwa
www.ongisnade.net

One thought on “Loyalitas dan Profesionalisme

  1. Sam, artikel’e disundul maneh d ON.net ae.. Mugi² Aremania & Aremanita iso luwih kenal karo om Miro ben iso menatap masa depan AREMA dengan penuh keyakinan.

    Salam 1 Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s