Pelajaran dari FA Cup

Liam TrotterAda dua hal yang menarik pengamatan saya dari ajang Piala FA akhir pekan kemarin, yaitu bagaimana wasit bertindak sangat tegas dan tanpa kompromi atas pelanggaran yang berpotensi mencederai pemain.

Pada pertandingan Ipswich Town vs Portsmouth, wasit Mark Halsey menghukum straight red card gelandang muda Ipswich, Liam Trotter, setelah melakukan tekel keras kepada gelandang Pompey, Pedro Mendes.

Pada pertandingan keesokan hari antara Burnley vs Arsenal, striker Burnley dan timnas Irlandia Utara, Kyle Lafferty, juga diberi straight red card oleh wasit Alan Wiley setelah mentekel keras gelandang Arsenal, Gilberto Silva.

Terlepas dari protes kedua manajer tuan rumah yaitu Jim Magilton dari Ipswich dan Owen Coyle dari Burnley yang menyatakan tekel pemain mereka dilakukan dengan satu kaki serta kondisi mental pemain mereka yang masih labil karena masih belia, Liam Trotter 19 tahun, Kyle Lafferty 20 tahun, wasit-wasit Inggris tampaknya sangat tegas dalam memimpin pertandingan dan melindungi pemain.

Wasit yang tegas dalam memimpin pertandingan membuat permainan enak ditontono, pemain pun bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena adanya perlindungan dari wasit, pemain juga akan berpikir dua kali apabila melakukan pelanggaran keras karena berakibat merugikan timnya sendiri.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari wasit Mark Halsey dan Alan Wiley? Ya, wasit-wasit lokal kita tampaknya harus merubah paradigma sepakbola kasar yang telah menjadi trade-mark sepakbola nasional selama ini. Kita bisa melihat sendiri bagaimana tekel-tekel keras dan kasar dibiarkan begitu saja oleh wasit kita.

Menarik disimak komentar pelatih timnas U-16 kita asal Uruguay, Cesar Payovic Perez yang heran melihat para pemain Indonesia yang tampil kasar dan seperti bukan bermain sepakbola dan diperparah dengan kepemimpinan wasit yang seakan membiarkan hal itu terjadi tanpa hukuman keras, “Asisten saya, Jorge Anon, pernah mencatat statistik salah satu pertandingan liga Indonesia. Saya tercengang ketika mendapati bahwa seharusnya ada lebih dari delapan kartu merah yang dikeluarkan oleh wasit, namun hal itu tidak terjadi,” ujar Cesar.

Dibutuhkan kerja sama dan itikad baik dari seluruh elemen sepakbola kita untuk meningkatkan kualitas sepakbola itu sendiri. Peraturan yang tegas tidak akan berjalan apabila tidak didukung oleh SDM yang “melek sepakbola”.

Kita bisa lihat sendiri bagaimana ketika Liam Trotter dan Kyle Lafferty dikertu merah oleh wasit, pemain-pemain Ipswich dan Burnley tidak melakukan protes yang “kelewat batas” kepada wasit, itu karena mereka mengerti aturan sepakbola, penonton tuan rumah pun masih bisa memberikan applaus kepada pemain yang dihukum kartu merah ketika keluar lapangan menuju ruang ganti.

Bandingkan dengan kompetisi kita, pemain kena kartu merah, wasit dikeroyok, pemain mogok, kemudian hujan lemparan gelas dan botol minuman ke tengah lapangan.

Hm… seandainya kita semua bisa belajar dari sebuah ajang kompetisi sepakbola tertua di dunia, Piala FA.

*) foto diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s