Antara Filsafat dan Agama

Menurut anda apakah filsafat dan agama saling bertentangan?
Apakah kita dapat memahami agama melalui filsafat?

Seperti halnya perbedaan antar agama, demikian juga filsafat juga merupakan bagian dari perbedaan tersebut.

Filsafat lahir dari pandangan dan hikmat yang tentu juga dilatar belakangi oleh suatu keyakinan. Baik itu keyakinan atas Tuhan yang universal atau keyakinan atas Tuhan dari kepercayaan Budha, Islam atau Kristen maupun keyakinan atas ketidak adaan Tuhan.

Hasil pemikiran tersebut tentu tidak selalu sama dengan pemikiran yang lahir dari beragam agama. Karena filsafat juga memberikan pencerahan tentang kehidupan, maka filsafat menempati porsi agama, sehingga sering kali pernyataan dalam filsafat disandingkan dengan pernyataan didalam agama yang akhirnya menimbulkan suatu pertentangan atau perbedaan.

Memahami agama lewat filsafat menurut saya tidak dapat, karena keduanya menempati tempat duduk yang sama. Penyanjung filsafat akan memandang bahwa filsafat berada diatas agama dan yang mendasari lahirnya agama, sementara mereka yang meyakinin agamanya dengan sungguh-sungguh melihat filsafat merupakan bagian dari pencarian akan Tuhan dari manusia (kehausan akan sang pencipta) sehingga porsinya berada dibawah agama.

Mana yang benar? Apapun juga pilihan anda, resiko ada ditangan anda sendiri (tentang kehidupan kekal dan penghukuman).

diambil dari sini

Iklan

11 thoughts on “Antara Filsafat dan Agama

  1. Ya…. menurut saya memang sepaham dengan pernyataan diatas, selain filsafat itu hasil pemikiran manusia sendiri yg terkadang terasa terlalu dipaksakan meski ada filsafat yang memang diciptakan karena orang yg menciptakan mempunyai kemampuan untuk melihat dimensi dan waktu yg lain atas seijin-Nya sebagai bahan referensi.

    Trus sebenarnya kalo menurut saya, tidak ada itu yg namanya keyakinan atas ketidak adaan Tuhan. karena apa…., karena saya dulu juga begitu…, tetapi setelah dipelajari, dipikir2 dan direnungi…, salah satunya yg mengakibatkan hal tersebut adalah karena tingkat ke-spiritualan yang dibengkokan oleh ketidakmampuan meresapi ayat2 yg terkadang sulit diartikan oleh orang awam dan terlalu ribet untuk dipahami, terlebih lagi oleh filsafat yg blas satu kalimat pun ndak ngerti maksudnya dan terkadang tidak menarik.

    Dan menurut saya lagi, hehehe…., sebenarnya kita itu mempercayai All In God tapi terkadang tidak menyadari, karena apa? salah satu atau lebih kitab menyatakan kalo Tuhan itu pemilik segalanya baik mahkluk/benda hidup atau mati. jadi kayaknya sah2 saja kalo kita kelihatannya menyembah patung atawa apaan gitu yg terkesan atheis, tapi pikiran kita tetap terkonsentrasi pada-Nya. Nah, itu diakibatkan juga oleh…, ya itu tadi…, ketidak mampuan meresapi makna sebenarnya di tiap2 penggalan ayat2 kitab2 suci yg berarti tingkat spiritual rendah dan oleh karena itulah biasanya mereka membutuhkan suatu perantara agar dapat berkonsentrasi kepada-Nya melalui suatu media, meski mungkin benar kata ayat suci yg menyatakan kalo Tuhan tidak berbentuk/berwujud tetapi kalau sudah spiritual rendah dan kurangnya pemahaman akan arti dan makna…., apa mau dikata….! Seharusnya itu adalah PR bagi mereka2 yg tingkat spiritualnya sudah tinggi untuk mengajari mereka yg belum paham (termasuk saya) agar dapat menempuh jalan yg sudah semestinya dilakukan. Jangan hanya melabeli saja atau mengkotak2’i saja…., do something. Ilmunya jangan dipake sendiri…., bagi2 dong….
    (Lho lho lho aku iki ngemeng epe toh…, kok dadi ngelantur keluar dari jalur topik pembicaraan, hehehe)

    Pokoknya, kesimpulanku idem sama comment yg atasan ditambah sebaiknya jangan sampai kita memahami agama melalui filsafat…., ya kalo filsafatnya yg bagus2…., lha kalo filsafat yg isinya menyelipkan makna arti peperangan yg sesungguhnya yg berdarah2….., hayo…., gimana….. ingat ajaran budha…., jangan melukai/merusak mahkluk hidup lain dan pendukungnya (hutan, hewan, dll) meski pada tingkatan yg paling rendah semacam semut yg oleh sebagian orang dipercaya sebagai reinkarnasi orang2/roh2 yg paling berdosa atau dengan kata lain ajaran Darma, huehehehe. Di setiap ajaran agama pasti ada ajaran seperti ini meskipun kemasan dan isinya berbeda…, tetapi maknanya sama.

    So, sebaiknya jadikanlah filsafat sebagai sumber ilmu pengetahuan semata meski sedikit mempengaruhi spiritual dan jadikanlah agama sebagai sumber ilmu spiritual untuk dapat bersatu disisinya. Jangan dicampur aduk 50-50 apalagi 70-30. kalo bisa 20-80 untuk agamanya.

    NOTE : SOry kalo ngomongnya melantur dan ndak jelas, maklum masih spiritual rendah…., jadi hasilnya… ya kayak diatas itu…, huehehehe

  2. # muhammad rachmat, kalau mamang benar banyak hal di dalam filsafat, mungkin saudara perlu untuk memeberikan pendapat anda mengenai hal-hal yang mengambang di dalam filsafat, dan juga mungkin saudara perlu membatasi dahulu apa yang saudara maksud dengan mengambang di sini.

    # ancient, wah…terkadang terlalu dipaksakan ya? bisa berikan contoh?

    mungkin saya ingin bertanya sedikit terhadap apa yang dimakudkan oleh tulisan di atas dengan jangan memahami agama melalui filsafat, pertanyaan ini akan saya ajukan kepada saudara Ancient. jika seseorang memiliki pandangan terhadap sesuatu tentunya dia harus memiliki landasan terhadap pandangannya itu bukan? paling tidak makna kata-kata kunci di dalam sebuah pernyataan harus diperjelas dahulu?
    itu artinya sejauh mana batasan makna yang saudara-saudara berikan terhadap agama dan filsafat?

  3. klo menurut gw se yg nmnya filsfat itu vital adanya dalm mmahami agama,demikian saya ibarat kan agama tanpa filsafat layaknya orang buta tanpa membawa tongkat. prlu diingat kristen sebagai slh satu agama langit harus menggunakan pemikiran filsafat untuk mengargumentsikan konsep trinitasnya.dalam islam bisa dilihat peran filsafat dalam berijtihad merpakan syarat mutlak. terlebih agama2 yang di bikin manusiajelas itu lahir dari pemikiran filsafat.gautama adalah filsuf yang melahirkan agama budha setlah mendapatkan pencerahan di bawah phon BO. alasan yang mendasar knp orang berpendapat bahwa filsafat bertntngan dengan agama adalah jarena belum memhaminya dalam filsafat, dan bagi para agamawan yag berpendapat sama tidak lain karena hanya memahami agamanya secara kontekstual. sariati berkata: kebaikan lhir dari pemikiran yang benar pula

  4. filsafat muncul dan lahir dari pikiran manusia yang termonopoli oleh nafsu atau hati (mana saja yang lebih dulu menguasainya)

    agama lahir dari dukungan orang-orang atau kelompok yang mempercayai FirmanNYA

    Islam Lahir dari ALLOH SWT yang Universal berlaku sepanjang jaman,
    karena Universal dan berlaku sepanjang jaman maka FirmanNYA tidak pernah berubah, karena ALLOH SWT yang menjaganya

    sejarah mencatat berulangkali Al Qur’an dipalsukan baik di tempat kelahiranya ataupun di negeri ini

    tetap bisa dibedakan antara Al Qur’an palsu dan asli
    sebagai usaha menjaga penafsiran yang menyimpang, dan menyesatkan
    Al Qur’an selalu ditulis dalam bahasa arab dan disampingnya ditulis terjemahan bahasa pribumi.

    merenungkan ayat demi ayat dari Al Qur’an tidak dilarang.
    berfilsafat atau sekedar meneliti saja boleh kok!
    bahkan banyak orang-orang diluar Islam yang melakukan itu bahkan di beberapa agama ada bidang khusus yang mempelajari Al Qur’an dengan berbagai macam tujuan,
    apakah agama mereka belum cukup dengan firman-firman sampai harus nyontek Al Qur’an

    dalam Al Qur’an ALLOH SWT hanya memberi dua pilihan mendapat rahmat dan semakin beriman atau tersesat
    semua itu adalah resiko bagi manusia yang mencari kebenaran

    dan ALLOH SWT Maha penerima taubat bagi orang-orang yang mau memembersihkan hatinya

    dalam filsafat
    sebersih apakah hati anda…???
    hanya anda dan ALLOH SWT saja yang tau
    sedekil apakah pikiran anda…???
    mungkin tindakan anda sehari-hari bisa menjawabnya

    sampai disini dulu
    semoga ALLOH SWT memberi petunjuk, amin

  5. FILSAFAT adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. dalam hal ini diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

    bukankah agama mengarahkan kita pada cara berpikir dan menemukan solusi dr setiap masalah yg kita jumpai, jadi apa bedanya agama dengan filsafat.

    semua pelajaran yang mengarah pada pembenaran akan berakhir pd pilsafat, agama tanpa pilsafat adalah sangat dangkal sedangkan pilsafat tanpa agama adalah laksana rumah tanpa pintu, jadi kalau anda mau mamasuki sebuah rumah maka kita harus membuka pintunya, namun kalau kita terus berada di pintunya kitapun tidak akan pernah masuk ke dalam rumah itu, jadi agama dan pilsafat harus terus sejalan kalau kita mau benar2 mengerti tentang kebenaran.

  6. “Mana yang benar? Apapun juga pilihan anda, resiko ada ditangan anda sendiri (tentang kehidupan kekal dan penghukuman).”

    Memang benar. Pilihan ada di tangan masing-masing. Dab penjelasan itu penting, agar ketika kita memilih, minimal kita telah bertanggung jawab kepada diri kita sendiri, kepada akal kita.

    Secara tegas filsuf mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kebenaran, tetapi berusaha untuk menghampiri, mencari, menguak kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang mencintai kebenaran. Artinya terus menerus menggapai kebenaran demi kebenaran sesuai tingkatannya yang lebih maju.

    Sedangkan agama baik secara tekstual ataupun pendapat para ulama, berisi kebenaran. Kitab suci itu mengandung kebenaran yang absolut. Al-Quran itu mengandung penjelasan yang lengkap tentang perkara-perkara yang prinsip atas hidup dan realitas yang dibutuhkan manusia. Dan dijamin benarnya.

    Jika kita sintesakan dua pendapat itu, maka pertama, filsafat bisa menjadi jalan menuju agama. Filsafat sebagai proses berfikir yang radikal dan sistematis adalah kerjaannya akal manusia. Agama mempersilahkan manusia mempertanyakan segala sesuatu kepada agama, sebelum ia mempercayai agama. Seyogyanya pafa filsuf itu menjadi orang-orang yang mendukung agama, ketika agama telah sampai kepada mereka.

    Kedua, para ulama itu bukan al-Quran. Mereka manusia biasa, yang juga berusaha memahami Al-Quran. Ulama dikatakan benar sepanjang dan amat bergantung kepada Al-Quran. Ulama agar benar, harus paham al-Quran. Dan upaya mereka memahami al-Quran itu bisa dengan berbagai metode. Islam memiliki metode sendiri, yang bukan berupa metode filsafat. Tetapi ulama seyogyanya membuka jalan bagi orang yang ingin memahami agama lewat metode filsafat.

    Harus ingat filsafat juga bisa menjadi jalan bagi bukan agama. Filsafat bisa mejadi jalan menuju kesesatan, dan sikap yang menentang agama. Dalam konteks seperti ini, menurut hemat penulis bukan metodologi filasafatnya yang salah, sebab, akar dari filsafat adalah berfikir. Filsafat adalah suatu metode dalam berfikir dan bernalar, yakni berfikir kritis dan radikal. Kalau orang mengatakan hati-hati dalam berfilsafat, sebab bisa membuat sesat, itu tidak salah. Beragama pun, kalau tidak hati-hati bisa sesat.

    Jalan menuju agama, bukan cuma filsafat. Banyak jalan menuju agama. Agama bisa didekati melalui kinerja akal, bisa juga melalui kinerja rasa. Dan di atas keduanya, yang membuat manusia sampai pada agama dan menjadi seseorang yang taat, adalah hidayah.

    Titik temu antara agama dan filsafat paling tidak bahwa agama dan filsafat hanya untuk dan dapat dilakukan oleh orang yang berakal.

    Orang yang telah teguh agamanya, ada benarnya mereka tak butuh filsafat. Logikanya begini. Jika filsafat itu sesuai dengan agama, maka bukankah agama saja pun cukup. Jika filsafat itu tidak sesuai dengan agama, ya dibuang. Artinya cocok ataupun tidak cocok, tinggalkan.

    Jadi kesimpulannya ?
    Orang yang beragama mau berfilsafat apa tidak, terserah.
    Tetapi seorang filsuf seyogyanya beragama, Islam.
    Mohon maaf.
    Jakarta, 2 Agustus 2009 jam 14.57

  7. memang anda benar,,,,,tetapi saya tidak setuju apabila ilmu filsafat tidak dapat memahami agama, mengapa demikian?..karena menurut saya dalam kajian yang dibuat para ahli fisafat,bahwa fisafat adalah pemikiran tentang segala sesuatu sampai keakar-akarnya yang kaitannya adalah objek yang dipelajarinya.jadi filsafat sangat berperan sekali dalam menelaah sesuatu termasuk agama karena di dalam agama terdapat hukum-hukum,larangan,perintah,anjuran tuhan dll yang harus kta ketahui secara mendalam supaya kita yakin dengan sempurna dan itu sangat rasional. mungkin akan berujung dengan ketuhanan yang tak dapat ditelaah oleh ilmu filsafat tetapi tuhan berkata”kita dapat menelusurinya dan mencari tau buautatannya” diantaranya agama karena agama adalah hasil kebudayaan tuhan..jadi fine2 adja bila kita ingin mendalami agama dengan ilmu filsafat….coba anda fikirkan….

  8. yang saya ketahui, di dalam kitab suci dari semua agama yang ada, tidak pernah di jelaskan tentang rasionalisasi keber-ada-an tuhan. yang ada hanyalah tennatng sifat-sifatnya.
    apakah kita hanya akan diam saja,,? beragama tanpa mengenal tuhannya,,? hanya bertaqlid (ikut-ikutan) buta atau hanya melestarikan ajaran nenek moayang,,? trus apa bedanya kita dengan orang-orang di zaman jahiliyah..?
    nah, jawabannya adalah dengan berfikir secara dalam dan bersungguh-sungguh serta selalu mencari berusaha mendekati pemahaman. sehingga, dari pemahaman tersbut akan timbul suatu keyakinan/iman baru yang benar-benar kokoh dan murni.

    bagi teman-teman yang beragama islam atau kristen, tentu tahu tentang kisah nabi ibrahim as. saat beliau berfikir dan mencari pemahaman tentang tuhannya. dengan dimulai dari diri sendiri dan kemudian alam sekitarnya.
    maka ketahuilah bahwa saat itu beliau sedang berfilsafat.
    karena, definisi filsafat adalah berfikir secara mendalam tentang hakikat sesuatu, baik benda atau yang lainnya.

  9. Bantahan untuk atheis (2)
    Mengapa Tuhan tidak bisa terlihat mata indera (?) hal itu sebenarnya bisa digambarkanoleh logika akal.analogi nya : mengapa benda benda seperti : gelas,mobil, rumah,dlsb bisa tertangkap mata (?) ….karena semua itu bentuknya terbatas,bentuk yang terbatas itulah yang terbingkai oleh penglihatan mata anda.sedang Tuhan (karena Ia Tuhan dan harus maha tak terbatas,sebab jika terbatas bagaimana bisa disebut Tuhan ?) karena Ia maha tak terbatas atau tak bisa dibatasi oleh manusia (adakah manusia yang bisa menangkap batas batas Tuhan ?) maka bagaimana Ia bisa ditangkap oleh penglihatan mata manusia.atheis sering menuduh agama sebagai ‘irrasional’ sebenarnya bukan karena agama itu irrasional tetapi akal mereka tidak bisa berfikir sistematis-konstruktif dan hanya bersandar atau percaya kepada apa yang ditangkap mata belaka,sedang akal itu tak boleh menjadi hamba sahaya mata (cara berfikir logika akal menurut agama harus murni sitematis tak boleh bergantung sepenuhnya pada dunia panca indera semata sebab dunia indera itu harus menjadi pembantu atau ‘hamba sahaya’ akal bukan sebaliknya ).dalam agama kedudukan akal lebih tinggi dibanding panca indera sedang dalam kacamata saintis atheistik sebaliknya.
    Atheisme sama dengan beranggapan bahwa yang serba tertib dan teratur di alam semesta itu berasal dari kebetulan,bukan dari desainer.padahal logika siapapun (yang masih sehat) akan mengatakan bahwa kebetulan itu mustahil melahirkan keteraturan dan keteraturan mustahil lahir dari kebetulan. analoginya sama dengan benda benda yang didalamnya terdapat mekanisme yang sistematis seperti : jam tangan ,mesin mobil,komputer dlsb. semua pasti berasal dari desainer bukan lahir dari kebetulan.jadi boleh membanggakan diri sebagai atheist tapi jangan membawa bawa akal atau rasio segala sebab atheisme dan akal sehat itu selalu bertolak belakang. coba saja serang atheisme dengan argument rasional pasti berantakan !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s