Impossible is Indonesia

South Africa 2010Pasti udah tau semua, atau bahkan nonton langsung di Senayan atau di TV, tentang kekalahan timnas sepakbola Indonesia dari Suriah 1-4 pada babak kualifikasi Piala Dunia 2010. Kalau di “kandang” sendiri saja kalah begitu telak, bagaimana nanti ketika timnas bermain away di Damaskus? Peluang lolos pun hampir mustahil.

Sebelum pertandingan Indonesia vs Suriah, banyak kalangan optimis dengan peluang timnas kita, mengingat catatan “lumayan” timnas kita selama pentas Piala Asia beberapa bulan yang lalu. Tapi, semua yang nonton pertandingan itu pasti punya alasan sendiri mengapa timnas kita begitu mudahnya kalah dari Suriah, yang di atas kertas levelnya berada di bawah Korsel atau Arab Saudi yang menjadi rival timnas pada Piala Asia kemarin.

Timnas IndonesiaEntahlah harus dengan cara apa lagi kita meningkatkan kualitas persepakbolaan kita. Sebagai suporter, yang bisanya hanya mendukung, saya tentu kecewa (atau terbiasa kecewa?) dengan timnas kita. Sebagaimana “pengamat” bola yang lain, saya juga punya banyak alasan mengenai “hancur”nya timnas kita Kualifikasi Piala dunia edisi kali ini.

Mulai sistem kompetisi yang amburadul dengan ditiadakannya sistem degradasi, rencana diadakannya Superliga yang berimbas pada “divisi-divisi” di bawahnya, inkonsistensi jadwal pertandingan, lemahnya penegakan hukum di ligina, kualitas wasit yang ala kadarnya, hingga kualitas pemain kita (dan pemain asing) yang gitu-gitu aja dan sulit bersaing di level internasional…

Atau kita bawa-bawa nama Nurdin Halid? Sebagai ketua PSSI yang seharusnya membina dan mengayomi persepakbolaan nasional, malah memberi contoh “busuk” dengan menginjak-injak nilai sportivitas dalam sepakbola itu sendiri. Butuh waktu berhari-hari untuk menulis secara detil kebobrokan PSSI ini. Patut pula kita pertanyakan “Visi Indonesia 2020” dan “Sepakbola Industri” yang selalu digambar-gemborkan Nurdin (dari balik terali besi).

Atau kalau boleh kita merunut sedikit lebih jauh lagi? Budaya persepakbolaan kita yang sudah usang, yang sudah tidak mampu lagi bersaing di level internasional (atau sekedar regional), dimana klub-klub “dipaksa” menjadi profesional, klub-klub yang “mengemis” uang rakyat (APBD), hingga budaya kita yang “tidak logowo menerima” yang ujung-ujungnya ribut & rusuh… Tentu tidak bijak kalau hal-hal tersebut tadi kita generalisasikan kepada semua obyek persepakbolaan nasional, hanya sebagian besar saja.

Animo sepakbola di negeri ini sangat tinggi. Saat melawan Suriah kemarin, timnas kita didukung lebih dari 40 ribu orang di Gelora Bung Karno. Pertandingan2 di ligina pada klub-klub yang mempunyai stadion dengan kapasitas memadai seperti Arema Malang, Persik Kediri, Persebaya Surabaya, PSS Sleman, PSIS Semarang, Persib Bandung, hingga PSM Makasar bisa dihadiri 25-30 ribu penonton, hampir sama pada klub-klub papan tengah Premiership Liga Inggris, Serie A Italia, atau Eredivisie Liga Belanda.

Tapi ya itu tadi, animo yang besar tidak sebanding dengan infrastruktur, sarana & prasarana, hingga kualitas SDM-nya, ya mulai pemain-wasit-pengurus klub-pengurus PSSI-hingga penontonnya sendiri. Sekali lagi dalam hal ini kita tidak menggeneralisasi.

Sebagai penikmat bola dan suporter sepakbola nasional, saya tidak apatis dengan kondisi sepakbola nasional sekarang ini, yang sudah berantakan, apalagi dipimpin dari dalam penjara. Harapan selalu ada. Visi Indonesia 2020 pun masih layak kita impikan. Tapi ya itu tadi, potensi yang besar jangan dikorbankan demi kepentingan sesaat, kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Egoisme pribadi jangan mengalahkan egoisme nasional.

Atau apakah selamanya kita ditakdirkan hanya sebagai penikmat Piala Dunia? Utopisme? Saya pribadi sih masih percaya dengan salah satu semboyan dalam sepakbola itu sendiri, “Impossible Is Nothing”.

Iklan

One thought on “Impossible is Indonesia

  1. Kekalahan Indonesia adalah sukses yang tertunda,
    tapi sampai kapan ya??? tertunda terus
    atau nunggu kiamat
    tetap semngat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s