Aremania Berduka

Ngenes, Arema osi nganem vs Persis Solo di Stadion Manahan. Gol tunggal Patricio “Pato” Morales membawa Arema nganem 1-0 dan membuat Arema untuk sementara menduduki capolista wilayah timur. Applaus untuk saudara kami suporter Persis Solo, Pasoepati, yang menyambut kedatangan nawak2 Aremania, semoga persaudaraan antar kelompok suporter ini bisa terus terjalin. Meskipun hanya sebagai “Aremania Elektronik”, ayas osi merasakan perjuangan tim Arema dan juga nawak-nawak Aremania yg ladub ke Olos. Minggu sore sekitar jam 3, ayas mendengar berita dari radio Citra Pro 3 FM bahwa ada salah satu Aremania yg tewas karena jatuh dari atas KA Matarmaja di daerah Sragen. Ayas sedih mendengar berita ini, ada lagi nyawa Aremania yang melayang demi sebuah nama: AREMA.

Besoknya, ayas baca koran Jawa Pos:
//
Jawa Pos, Senin, 22 Okt 2007 :
“Nglurug Solo, Aremania Tewas Jatuh dari KA
Niat Epin Januar Irmawan untuk mendukung kesebelasan kesayangannya Arema berubah menjadi petaka baginya. Aremania dari Korwil Muharto Timur berusia 16 tahun yang ingin menyaksikan timnya melawan Persis Solo ini meninggal sebelum pertandingan digelar di Stadion Manahan.

Pria yang tinggal di Jl Muharto Gang VII A Rt 3 RW 7 No. 57 itu ditemukan tewas di pinggir rel KA di Kabupaten Karanganyar, Solo. Berdasarkan laporan polisi No. Pol LT/09/X/2007 Polres Karanganyar, pria yang akrab dipanggil Panjul tersebut diperkirakan meninggal pada Sabtu malam pukul 21.44 .

Panjul ditemukan oleh petani setempat di Dukuh Waru, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakramat, Kabupaten Karanganyar. Berdasarkan laporan polisi, Panjul jatuh dari atas gerbong KA Matarmaja jurusan Malang-Jakarta. ”
//

Nawak… sepengetahuan ayas yang mengikuti perkembangan Arema sejak ayas masih SMP, sudah berulang kali nyawa Aremania tergadaikan demi nama Arema, sebuah klub “pemberontak” di tengah kemapanan klub-klub “plat merah”, sebuah nama yang melebur semua golongan dari seluruh strata sosial dalam satu warna biru Arema, sebuah kelompok suporter yang dikenal sebagai pelopor suporter kreatif dan suporter terbaik di Indonesia, sebuah nama yang akan lebih panjang lagi bila kita jelaskan secara rinci…

Ayas ikut berbelasungkawa nawakInnalilahi wa innailaihi rojiun. Semoga umak diterima disisiNya. Amiin.

SALAM SATU JIWA SATU KATA : AREMA

Iklan

18 thoughts on “Aremania Berduka

  1. Innalillahi wa inna ilai rojiun.
    Aremania mesir turut berduka cita atas meninggalnya panjol.
    Semoga arwahnya di terima di sisi-Nya.

    untuk Aremania lek tour ati-ati ker.

  2. Ayas jugo kolem ndungo …
    Innalillahi wa inna illaihi roji’un. Semoga ebes kanal n kodew-ne arodes iku diparingi ketabahan… Semoga perjuangan yang berdarah-darah mendampingi AREMA, dapat dirasakan oleh mereka yang bermain, oleh mereka yang berkuasa mengelola PS. AREMA, dapat dirasakan oleh nawak-nawak aremania di mana saja berada.

    Salam Satu Jiwa

  3. Ayas copy-paste dari milis arema:
    AGUS SELAMAT, ERPIN TEWAS
    SOLO – Tenyata bukan hanya Edwin Januari Ikmawan, yang terjatuh dari kereta api. Masih ada Aremania lain yang mengalami hal sama. Bedanya, Erpin meninggal, sementara Agus Priyono, Aremania yang juga jatuh, masih bisa diselematkan. Jenazah Erpin January, Aremania Korwil Otrahum, semalam langsung dimakamkan.

    Sedangkan Agus Priyono yang terjatuh dari atas gerbong kereta api Matamarja Malang-Jakarta saat hendak berhenti di Stadion Balapan Solo, harus dirawat di Rumah Sakit Muwardi Solo. Agus mengalami luka robek pada lengan kanannya dan pendarahan pada kepala bagian belakang. Sebelumnya, dia terbentur tiang yang melintang di atas rel saat kereta memasuki Jurug Solo. Beruntung, Agus tidak sampai terpental hingga jatuh ke tanah. Namun bagian kepalanya sempat membentur bagian ventilasi udara bagian atap gerbong.

    “Syukur, Mas, saya nggak sampai jatuh ke bawah dan bertahan di atap gerbong. Nggak tahu apa jadinya, kalau saya terpental ke bawah. Ketika ada tiang, saya langsung melindungi kepalaku dengan tangan. Beruntung teman saya memegangi tangan saya” terang Agus kepada Malang Post di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Muwardi, siang kemarin.

    Pemuda berusia 19 tahun ini bercerita, dia terpaksa naik di atas atap gerbong karena gerbong yang ditumpanginya penuh penumpang. Mungkin lantaran memasuki arus mudik lebaran. Dia berangkat dari Malang bersama beberapa rekan sepermainan. Meliputi, Juned, Dwi, Ali dan Tono. Mereka juga yang melarikan Agus ke rumah sakit setelah mengalami luka parah tersebut. Akibat cedera itu, Agus harus mendapatkan belasan jahitan pada lengan kanan dan kepalanya.

    Sayang, dia kesulitan mengganti biaya perawatan medis lantaran berangkat dari Malang dengan bekal minim. Agus bersama empat rekannya pun nekat berangkat tanpa bergabung rombongan resmi Aremania dari Malang ke Solo menggunakan jalur bus. “Lha gerbonge penuh penumpang, jadi aku dan teman-teman memilih naik di atap gerbong agar nggak desak-desakan. Karena sangune cekak, saya nggak bisa bayar biaya perawatan. Tetapi orang tua saya di Malang, sudah mengetahui musibah ini. Teman-teman saya nyari sumbangan ke Aremania di Stadion Manahan untuk bayar perawatan” ujar Agus.

    Sementara itu, di dalam Stadion Manahan sendiri, Aremania benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai suporter terbaik. Sekitar tujuh ribu Aremania yang hadir, bisa mempertontonkan sikap kekeluargaan dengan Pasoepati. Mereka terus bernyanyi dan menari bersama-sama. Meski di lapangan panas, namun Aremania dan Pasoepati tetap menjadi satu. Karena, kedua suporter ini memang sudah seperti keluarga. (Poy Heri Pristianto)

  4. KEMENGAN TERMAHAL
    SOLO – Torehan tiga poin yang didapat Arema semalam, ternyata harus dibayar mahal. Menjamu Persiwa (22/11) mendatang, Arema dipastikan tidak diperkuat tiga pemain pilar. Mereka adalah Ponaryo Astaman, Ronny Firmansyah dan sang pembunuh Emile Bertrand Mbamba. Ketiganya absen karena akumulasi kartu kuning. Kartu itu pula yang sempat dipertanyakan pelatih Miroslav Janu. Padahal, pemain Persis banyak yang melakukan pelanggaran keras terhadap pemain Arema.

    “Saya tidak tahu, kenapa hanya Arema yang dapat kartu. Wasit apa tidak melihat pemain mereka (Persis, Red.) juga banyak pelanggaran. Ini benar-benar pertandingan mahal. Kami harus segera mencari pemain pengganti” ujar Miro, sambil geleng-geleng kepala. Namun demikian, Miro tetap angkat topi dengan perjuangan Alexander Pulalo dkk. Termasuk dukungan Aremania yang tiada henti-hentinya di sepanjang pertandingan.

    Bahkan saat pertandingan harus dihentikan, mereka terus memberikan support. Karena Aremania itu pula, ujar Miro, pemain Arema merasa tertantang untuk memberikan yang terbaik. Mereka tidak lagi memperhitungkan faktor kelelahan ataupun lapangan yang sangat berat.

    “Terima kasih Aremania. Mereka sudah datang jauh-jauh dari Malang, nonton saat hujan deras tapi tidak pergi. Karena mereka, pemain bisa kerja maksimal sepanjang 90 menit. Kemenangan ini untuk mereka. Apalagi kami mendengar ada Aremania yang sampai meninggal dunia. Kami benar-benar berduka” papar Miro.

    Ya, kabar meninggalnya Edwin Januari Ikmawan, Aremania Otrahum, memang sempat didengar Arema. Bahkan dalam pertandingan kemarin, seluruh pemain dan ofisial mengenakan pita hitam di lengan, sebagai tanda berkabung. Sementara itu, Manajer Arema, Satrija Budi Wibawa, tidak ada henti-hentinya mengucapkan syukur. Apalagi melihat perjuangan pemain yang demikian tinggi di sepanjang pertandingan.

    “Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Telah Kau berikan nikmat untuk Arema dan Aremania seluruh dunia. Dengan perjuangan yang luar biasa, Arema bisa menang 1-0. Kemenangan ini juga untuk pengorbanan Edwin” ujar SBW, panggilan akrabnya.

    Sementara itu, menyangkut meninggalnya Edwin, SBW juga mengaku benar-benar berduka. Karenanya, dia berharap Aremania saat pulang ke Malang, bisa lebih hati-hati. Atas nama Yayasan dan PS Arema, kami turut berduka cita. Juga mohon dengan sangat untuk seluruh Aremania, agar lebih hati-hati, tertib selama di perjalanan. Semoga kejadian serupa tidak terulang lagi. “Juga tidak ada musibah lagi di keluarga besar Arema dan Aremania” ujarnya. (Poy Heri Pristianto)

  5. AKU JUGA TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA EDWIN PANJUL SEMOGA INI KEJADIAN TERAKHIR YANG MENIMPA REKAN2 AREMANIA.DAN INI JUGA MEMPERINGATKAN KEPADA KITA UNTUK SELALU BERHATI-HATI DALAM SETIAP PERJALANAN.SAM ZOEL KEEP YOU POST BRO

  6. Ayas dapat info dari salah satu radio kalau mendiang Edwin alias Panjul, Aremania yg tewas karena kecelakaan saat Tour de Solo, berbekal uang 150 ribu hasil dari menjual sepatu & baju lebarannya, sesaat sebelum kecelakaan, Edwin sempat beli nasi di Madiun, tapi ketika hendak akan kembali masuk gerbong, ternyata sudah penuh, Edwin kemudian berpikir untuk naik ke atas gerbong, dia sempat diingatkan salah satu temannya, tapi Edwin bilang “Bah no, matek yo kependem”, hmm… mungkin itulah firasat dari seorang Edwin sebelum tewas dengan syal biru Aremania melingkar di bahunya…

  7. Ayas kopi-pes dari milis Arema / Malang Pos (#2)

    Edvin Januar Idmawan alias Panjul adalah satu dari sekian banyak Aremania fanatik. Remaja 17 tahun itu berangkat ke Solo, kota yang membawa kematiannya, berbekal uang Rp 150.000 yang didapat dari menjual sepatu dan baju Lebarannya.

    Heri Wahyudi, 38, dan Suprapti,40, masih berduka. Suami istri warga Jl Muharto ini baru saja ditinggal putra mereka, Edwin Januari Ikhmawan alias Panjul yang tewas dalam perjalanan membela tim Arema yang bertanding di Solo, Minggu (21/10).

    Kemarin, Heri mengenakan baju khas Aremania, kemeja biru bergambar singa mengaum. Baju itu seolah untuk menunjukkan ketegarannya menerima takdir. Sedang Suprapti lebih banyak menangis. Air matanya terus tumpah ketika menerima para pentakziah, Senin (22/10).

    Dalam percakapan dengan Surya, Heri mengakui kematian anaknya itu membuatnya kembali teringat pada mimpi beberapa hari sebelumnya. Ia pun menganggap mimpi itu sebagai firasat. Dalam mimpi itu, ia didatangi sang ayah yang telah meninggal. Sang ayah datang bersama Panjul. “Saya lalu menceritakan mimpi tersebut kepada istri. Tapi saya tidak bilang, kalau yang bersama ayah saya itu Panjul,” ujarnya, Senin (22/10).

    Dua hari sebelum peristiwa terjadi, Heri kembali bermimpi yang diyakininya menjadi pertanda kematian putranya. Heri bermimpi dikirimi dua jenazah yang tidak jelas siapa identitasnya. Sang istri yang kala itu diberitahu mimpinya, hanya menganggap sebagai bunga tidur saja. “Istri saya saat itu takut berpikiran yang aneh-aneh. Sebab mimpi itu saya ceritakan saat hendak berangkat narik bus,” ungkapnya.

    Sementara itu Suprapti sempat merasakan keanehan saat anaknya tersebut hendak berangkat ke Solo. Biasanya, Panjul tidak pernah pamit apabila mau bepergian ke mana pun, termasuk saat membela tim kesayangannya Arema. “Siang itu, kok tumben-tumbennya anak saya pamitan akan berangkat ke Solo,” ucapnya. Waktu itu, tentu saja, Suprapti tidak menyangka itu pamitan pertama sekaligus yang terakhir.

    Perempuan berwajah bulat itu menuturkan, Panjul nyaris tidak pernah melewatkan laga Arema, di mana pun. Selama laga berlangsung di Pulau Jawa dan Bali, aktivis Gerakan Sadar Anti Narkoba (Gesank) itu selalu hadir. “Akibat tidak mau merepotkan orang tua, dia biasa menjual burung, pakaian, sepatu atau apa saja yang dia punya untuk bisa menyaksikan pertandingan Arema,” ujar Suprapti.

    Demikian juga ketika berangkat ke Solo, putranya yang dikenal pendiam itu, ketika pagi sudah menjual sepatu dan pakaian lebarannya, agar bisa menyaksikan pertandingan Arema.

    Heri mengakui, kegemaran Panjul itu tidak lepas dari pengaruhnya. Heri lah yang menularkan kecintaan pada Arema itu kepada sang anak. Hanya karena saat Arema bertanding ke Solo, dia sedang bertugas menjadi sopir di bus Bagong Kepanjen, dia tidak ikut serta untuk menyaksikan laga away itu. “Saya berharap Edwin, merupakan korban terakhir,, selama ini sudah terlalu banyak korban berjatuhan akibat lalai ketika mendukung tim kesayangan,” ujar Heri.

    Sebagai orang tua korban, Heri berterimakasih atas dukungan berbagai pihak yang ikut peduli akan musibah yang dia alami. Mulai dari Manajemen Arema, Wali Kota, DPRD, para pejabat dan Aremania maupun masyarakat umum yang tidak bisa dia sebutkan satu persatu.

    Seperti terlihat pada Senin (22/10) kemarin, pukul 11.00 WIB, Aries Pudjangkoro dan Mohan Katelu anggota Komisi C DPRD Kota Malang datang. Dua politisi yang akan berpasangan dalam pilwali Kota Malang itu menyumbangkan dana Rp 2,5 juta sebagai pengganti biaya mobil ambulans untuk mengangkut Panjul dari Sragen. “Ini sekadar solidaritas sebagai warga Malang, karena Panjul merupakan pejuang Arema sejati. Semoga beban keluarga dapat terkurangi,” ujar Aries.

    Sekitar satu jam setelahnya, rombongan Wali Kota Malang Peni Suparto dan wakilnya Bambang Priyo Utomo datang ke rumah itu. Dalam kesempatan itu Peni juga memberikan santunan. “Semoga almarhum diterima disisi-Nya secara layak. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan dan ketabahan,” ucapnya.

    Peni juga mengimbau kepada seluruh Aremania untuk berhati-hati apabila tengah mengadakan kegiatan. Sebab kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya juga sempat terjadi beberapa kali peristiwa yang menelan korban Aremania.

    Pamit pertama dan terakhir kali
    Beda dengan sehari sebelumnya yang masih shock ketika mengetahui anaknya meninggal dunia, akibat jatuh dari Kereta Api, ketika akan menyaksikan pertandingan Arema melawan Persis Solo, Minggu (21/10). Ibunda dari Edwin Januari Ikmawan, Ny Suprapti, tampak lebih tegar, ketika menerima kedatangan para pentakziah di rumahnya, Jl Muharto Gg 7 Kecamatan Kedung Kandang.

    Sebelum meninggal dunia, Edwin telah memperlihatkan tanda-tanda diluar kebiasaan selama ini. Jika selama ini, setiap kali mengikuti tur Arema di berbagai daerah yang ada di Jawa dan Bali, dia tidak pernah pamit. Ketika berangkat ke Solo itu, putra nomor dua dari lima bersaudara pasangan Heri Wahyudi dan Suprapti itu untuk pertama kali dan terakhir, pamit mau menyaksikan pertandingan Arema kepada kedua orang tua.

    “Saya tidak menyangka sekali, kalau pamit Edwin sebelum berangkat ke Solo merupakan yang terakhir untuk kedua orang tuanya,” jelas Suprapti kepada Surya, Senin (22/10). (Denny RB/Cahyo N/Anas B)

  8. Ayas kopi-pes dari milis Arema / Malang Pos (#1)

    Almarhum Edwin Januari Ikmawan, adalah satu dari sekian ribu suporter fanatik Arema. Dengan cara apapun, ia akan menyertai tim kesayanganya bertanding. Termasuk, ke Solo, Minggu (21/10) lalu.

    Panjul, demikian pemuda 17 tahun ini disapa rekan-rekannya, tidak sempat menyaksikan kemenangan dramatis Arema. Sebab, sebelum sampai di Standion Manahan, ia meregang nyawa hingga meninggal karena terjatuh dari kereta api. Atas kesetiaan itulah, banyak simpati mengalir. Diantaranya dari Wali Kota Malang dan Malang Post. Siang kemarin sekitar pukul 12.00 WIB, iring-iring kendaraan Wali Kota Malang tiba-tiba berhenti di depan Gang 7A, Jl. Muharto. Pintu belakang mobil Nissan Terrano bernomor polisi N 1 AB dibuka, Peni Suparto keluar bergegas masuk gang sempit itu menuju rumah Heri Wahyudi, orang tua almarhum Panjul.

    Tergopoh-gopoh, sopir bus Bagong itu menyalami Wali Kota Malang itu. Ia terkejut karena tidak mengira orang nomor satu di lingkungan Pemkot Malang mau datang ke rumahnya. “Ah, masak Pak Wali Kota mau datang ke sini. Sampean jangan macam-macam”, cetusnya kepada Malang Post, ketika diberitahu wali kota, akan datang beberapa jam sebelumnya.

    Pria berbadan subur itu segera menceritakan kronologis jatuhnya anak keduanya itu hingga pengiriman jenazah menggunakan ambulance. Meski Heri nampak tabah, tetapi matanya mulai memerah saat bercerita. Sementara Inep, sapaan akrab Wali Kota Malang, mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia mengangguk-angguk.

    Kedatangan Wali Kota Malang ke rumah duka kemarin adalah untuk mengucapkan bela sungkawa. Menurut Inep, Aremania merupakan salah satu pilar utama Arema.

    Sehingga, dukungan suporter sangat menentukan prestasi tim yang didirikan oleh Acub Zaenal tersebut. Sebelum memberikan bantuan sosial Inep berpesan banyak kepada keluarga agar tetap tabah menghadapi cobaan tersebut.

    “Saya mengharapkan Bapak tabah menghadapi cobaan ini. Saya mewakili pemerintah Kota Malang turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya nak Edwin”, ujar Inep sebelum kemudian berpamitan. Sedangkan Pimpinan Redaksi Malang Post, H Husnun N Djuraid yang berkunjung setelah Inep, juga menyampaikan duka cita yang mendalam. Keluarga besar Malang Post, benar-benar ikut merasa kehilangan atas berpulangnya Panjul.

    “Kami berharap, semoga meninggalnya Edwin, adalah berita yang terakhir tentang pengorbanan Aremania kepada Arema. Biar Edwin menjadi orang terakhir yang meninggal untuk mendukung Arema. Jangan ada Edwin-Edwin lainnya”, ujar Husnun.

    Tak lupa, Malang Post juga menyampaikan tali asih untuk membantu meringankan penderitaan keluarga Edwin. Karena, selain dari sisi psikologis mereka sangat terpukul dengan kematian Edwin, dari sisi materi, mereka juga harus memikirkan banyak hal.

    Sebelum kehadiran Inep dan Malang Post, beberapa anggota DPRD Kota Malang juga menyempatkan diri nyambangi keluarga almarhum Edwin. Mereka adalah Drs. Aries Pudjangkoro, Mohan Katelu, SH dan Pudjianto, SE. Kunjungan tersebut tidak direncanakan, secara spontan, Aries mengajak Mohan dan Pudji untuk berkunjung setelah membaca berita dari Malang Post.

    Aries mengatakan, sebagai sesama warga Arema, dirinya merasa ikut terpanggil untuk sekadar menjenguk keluarga almarhum. Kami merasa empati dengan pihak keluarga korban. Semoga keluarga, terutama ayah dan ibunya tabah menghadapi cobaan tersebut, ujar Aries.

    Dia menambahkan, saat berbincang-bincang dengan ayah almarhum, Heri Wahyudi, sempat tercetus Heri masih belum melunasi tanggungan biaya ambulance untuk mengirim jenazah Panjul. Aries pun segera memberikan bantuan Rp 2,5 juta, yang masih menjadi tanggungan Heri. Sementara itu, Mohan Katelu, berkaitan dengan peristiwa tersebut mengharapkan, jika ada pertandingan away Arema berikutnya, koordinasi dengan setiap korwil lebih ditingkatkan lagi. (sinyo suwignyo)

  9. turut berduka cita atas meninggalnya Alm. panjul semoga arwahnya diterima disisi-NYA. SALAM SATU JIWA SATU KATA AREMA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  10. Saya turut berduka cita atas meniggalnya mas panjul dari aremania…
    semoga dengan 1 nyawa aremania ini memacu perjuangan SINGO EDAN dalam merebut gelar juara ligina tahun ini… aku memang bukan AREMANIA tapi Aku PASOEPATI yang akan mendukung kesebelasan ONGIS NADE WALAU HANYA LEWAT DOA DAN HARAPAN… Salam Damai untuk AREMANIA dari PASOEPATI…
    BONEK BAJINGAN!!!

  11. AREMA BAJINGAN.GITU KOK NGAKU SUPORTER BAIK…………..AREMA SAMA KAYAK BONEK DANCOK……………………….LAEN KALI KALAU MAEN KEKEDIRI KITA AKAN SIAP SEMUA KARENA AREMA TELAH HIANATI PERJANJIAN DAMAI.
    AREMA HANYA SEKUMPULAN PENCURI,PERUSUH,BANCI,GAK SPORTIF.POKOKE AREMANIA ANJING……………………….

  12. SIAPA YANG BIKIN PERJANJIAN AKAN BERSIKAP BAIK DAN DAMAI DIKEDIRI?(AREMA JANCOK)
    SIAPA YANG BAKAR GAWANG STADION?(AREMA JANCOK)
    SIAPA YANG MERUSAK STADION?(AREMA JANCOK)
    SIAPA YANG MENJARAH RUKO DISEKITAR STADION?(AREMA JANCOK)
    SIAPA MANUSIA MUNAFIK,BANCI?AREMA JANCOK.
    SIAPA BILANG SAYA GAK TAU APA-APA?!?!
    SAYA ADA DISANA,BAHKAN SAYA JUGA IKUT MENANGKAP AREMA YANG BIKIN RUSUH DIKAMPUNG KAMI.KALAU GAK DITOLONG POLISI MUNGKIN ADA 8 AREMANIA ANJING YANG DIBAKAR HIDUP-HIDUP DIKAMPUNG KAMI.
    PERMINTAAN MAAF AREMANIA HANYA BASA BASI SAJA MAKLUM AREMA DAN PENDUKUNGNYA HANYA MANUSIA2 ANJING YANG MUNAFIK.
    SEKARANG AREMA JUGA TERSINGKIRKAN?!?!!?
    SEBENARNYA SAYA TIDAK INGIN BERKATA SEPERTI INI,TAPI KARENA SAYA FIKIR SEPAK BOLA ADALAH OLAH RAGA YANG DITUJUKAN BUAT HIBURAN.TAPI SETELAH KEJADIAN BEBERAPA TAHUN YANG LALU TERJADI LAGI SEBAGAI WARGA KEDIRI SAYA TIDAK TERIMA.BEGITU JUGA DENGAN ANDA KALAU STADION DAN KOTANYA DIBUAT RUSUH?!?!?
    IYA KAN?!?!!?(YANG JAWAB TIDAK BERARTI ANJING MUNAFIK)
    MAAF BILA MENYINGGUNG INI HANYA UNGKAPAN HATI SAYA YANG KESAL TERHADAP AREMANIA DAN BONEK.
    LAIN KALI MERUSUH SAYA RELA MELEPAS SERAGAM DORENG SAYA UNTUK MENEMBAKI AREMANIA ATAU SIAPAPUN DENGAN SENAPAN SERBU.TERIMA KASIH

  13. @ arema-ngloco :
    siapa yg bilang akan melakukan penjemputan? (PERSIKMANIA)
    siapa yg bilang akan jadi tuan rumah yg baik tp menyambut dgn lemparan batu? (OKNUM PERSIKMANIA)
    siapa yg “maksa” jadi tuan rumah delapan besar padahal stadion kelas kampung gak layak buat delapan besar bahkan superliga? (PANPEL PERSIK)
    siapa yg mematikan lampu seluruh kampung & menyerang kami terlebih dulu? (OKNUM PERSIKMANIA)
    itulah bukti kalau Kediri belum berpengalaman menyelenggarakan pertandingan sepakbola kelas nasional, oke kalian pernah juara dua kali, tapi menampung sekian ribu suporter tamu, apakah kalian mampu? jawabannya adalah TIDAK!!
    org2 Kediri dgn bodohnya diperalat oleh sepakbola bawaan IWAN BUDIANTO & MASCHUT
    padahal mereka itu hanyalah pelarian pecundang dari Arema
    kalian tidak pernah tau arti sepakbola
    jika suatu saat IWAN & MASCHUT “pergi” dari Persik, tim Macan Putih kalian akan kembali sbg tim kelas dua di sepakbola nasional, seperti pada awalnya
    ingat kapan pertama kali kalian “kenal” sepakbola?
    masih seumur jagung
    jadi, anda memang tidak tau apa-apa
    sori…

  14. @arema-ngloco :
    Apa arti embel-embel seragam doreng anda?
    Apa seragam doreng itu merupakan sebuah ancaman??
    Ohhh…melepaskan seragam doreng, ambil senapan trus menembaki aremania? apakah dibalik seragam doreng anda diajarkan untuk jadi pengecut?

    hehehehe…apa sebagai seorang aparat (kalo bener anda aparat) emang dibiasakan bersikap arogan kayak gitu??

    wallahu’alam…

  15. Jangan sekali-kali mengancam dng ATRIBUT PASUKAN. Sepak Bola TIDAK ada Hubungannya dng PASUKAN……..tapi kalu KAMU TETEP DNG GERTAK SAMBALMU DNG BERBAJU PASUKANpun KAMI SIAP MENGHADAPI…..APAPUN PANGKAT & KESATUANMU. Sebutkan
    1. Pangkat
    2. Kesatuan
    3. NRP
    Kalau Kamu Gentle Sebutkan…….kita Ketemu di Mana Kamu Suka (Berapa Kompi, Batalyon atau Kita DUEL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s