Tidak Akan Ada Kekuasaan Yang Abadi

Ini adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Tidak akan ada kekuasaan yang berlangsung seterusnya di muka bumi ini. Bila bukan rakyat, maka waktulah yang akan mengakhirinya secara alamiah. Jadi akhirilah tanpa cacat.

Sebutlah tokoh-tokoh dengan kekuasaan absolut yang bahkan menguasai separuh dunia, seperti Firaun, Jenghiz Khan hingga tokoh-tokoh sejarah modern seperti Adolf Hitler, semuanya tergulung dan kemudian lenyap. Baik oleh gelombang peradaban, maupun oleh waktu.

Padahal saat berkuasa, mereka merasa diri tak terlawankan, bahkan menyamai kekuatan tertinggi yang mereka percaya. Mereka bahkan mencoba melanggengkan kekuasaan tersebut, misalnya dengan Firaun yang membuat mumi dirinya.

Dalam dunia sepakbola profesional, selalu ada orang-orang seperti Firaun. Meniru sikapnya yang merasa paling benar dan tidak terbantahkan. Diego Maradona pada masa jayanya merupakan satu contoh. Ia menganggap dirinya adalah representasi dari sepakbola Argentina ataupun Napoli, klubnya di Italia. Ia tega untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya, termasuk rekannya semasa di junior, Ramon Diaz.

Maradona yang pada masa jayanya membawa Argentina menjadi juara dunia 1986 serta masuk final Piala Dunia 1990, mencoba menerapkan ucapan Raja Prancis. Louis XIV, “L’etat c’est moi.” (Negara adalah saya atau dibaca: Argentina adalah saya!”).

Bagaimanapun manusia adalah makhluk ciptaan yang fana. Keistimewaan Maradona yang begitu fenomenal segera tersapu oleh merosotnya fisik yang tergerus jaman dan usia. Bintang-bintang baru bermunculan sebagai alternatif si El Pibe Del Oro, si anak ajaib. Maradona tidak mampu lagi membawa Argentina dan Napoli ke kejayaan seperti masa lalu.

Merosotnya popularitas Maradona diperparah dengan post power syndrome yang menghinggapinya. Maradona mencari-cari lagi kejayaannya lewat hal-hal semu seperti obat bius dan alkohol maupun petualangan-petualangan seksnya. Namun sekali lagi, usia tidak bisa dibohongi, garis akhir telah membentang di hadapannya.

Contoh yang lebih baru adalah fenomena Jose Mourinho. Selama beberapa tahun, Jose Mourinho adalah kekuasaan tertinggi di tubuh klub Liga Premier, Chelsea. Ia mempunyai kekuasaan penuh dalam menentukan pembelian pemain, susunan pemain maupun skema permainan. Dan ia menjaganya dengan menghasilkan prestasi yang tentunya menyenangkan pemilik klub, Roman Abramovich.

Namun toh akhirnya terbukti kekuasaan itu hanyalah mandat. Pemberinya adalah rakyat atau pemilik modal. Mourinho tidak dapat lagi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya dan harus mengembalikan mandat tersebut ke klub untuk digantikan Avram Grant.

Membantah L’etat C’est Moi
Masalah sekarang adalah bagaimana membantah kebenaran ungkapan L’etat C’est Moi tersebut. Meski aneh, banyak orang yang mempercayai ungkapan ini sebagai hal yang benar.

Saat Louis XIV (1638-1715) mengungkap hal itu, ia selalu ingin memberi kesan bagaimana jadinya bangsa atau negara ini tanpa saya? Tidak heran karena ia berkuasa di Prancis selama 72 tahun!

Sama dengan pertanyaan apa jadinya bangsa dan negara Indonesia tanpa Soekarno, saat ia mundur pada 1967. Atau apa jadinya India tanpa Nehru saat wafat 1960-an. Bahkan, apa jadinya Indonesia tanpa Soeharto saat lengser setelah berkuasa selama 32 tahun?

Toh Prancis sekarang telah menjadi salah satu negara adidaya di dunia. India juga menjadi satu negara yang ditakuti di Asia. Sementara Indonesia, -meski babak belur- masih survive sebagai negara kesatuan.

Suatu institusi yang sehat harus mampu melanjutkan programnya tanpa bergantung kepada individu. Apakah individu itu bijaksana, kekeluargaan, dan sangat dicintai dan dihormati oleh anggotanya. Apalagi kalau individu tersebut adalah orang yang kekanak-kanakan dan sering bertindak hanya untuk memuaskan keinginan pribadinya.

Sepakbola Argentina memang tidak pernah meraih prestasi puncak seperti saat Mardona masih di dalamnya. Namun mereka kan pernah meraihnya tanpa Maradona pada 1978? Dengan Maradona pun mereka juga pernah gagal mengulangi prestasi juara pada 1990 dan 1994? Meski begitu, Argentina tetaplah kekuatan utama dunia sepakbola dan selalu masuk peringkat dunia versi FIFA.

Sepakbola Argentina tidak pernah mati tanpa Maradona. Pasca Maradona ada Gabriel Batistuta, Ariel Orgtega, Diego Simeone maupun Juan Veron. Sekarang bahkan muncul nama-nama muda seperti Lionel Messi yang membuat orang akan bertanya, “Siapa itu Diego Maradona?”

Avram Grant memang menghadapi masa sulit menangani Chelsea yang ditinggalkan Jose Mourinho. Di sana terdapat All Jose’s Men seperti Didier Drogba atau pun Michael Essien. Ia harus menghilangkan kesan sebagai bayang-bayang Mourinho untuk kemudian menghasilkan The Blues yang kembali ditakuti. Waktu dan kemampuan jualah yang akan membuktikannya.

Bulan suci Ramadhan ini adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk menyadari fitrah bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Sebesar apa pun kekuasaan yang kita miliki. Kekuasaan yang abadi hanyalah milik Tuhan. Kalau pun masih ada pimpinan yang terperangkap sindroma Louis XIV dan tidak ingin kehilangan kekuasaannya, inilah saatnya untuk introspeksi.

Kekuasaan adalah amanah dan pada saatnya nanti akan ditarik dari tangan kita. Akan lebih baik bila kita pada saatnya nanti melepas kekuasaan tersebut tanpa cacat daripada dianggap kerap berlaku dzalim.

(diambil dari BolaNews.com, Tyas Soemarto, soemartotyas@yahoo.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s