Kompetisi Tanpa Degradsi

PSSI = Perusak Sepakbola Seluruh IndonesiaSenin, 1 Oktober 2007, seperti biasa habis bangun tidur ayas denger radio, acara berita Arema dan sepakbola. Yang bikin saya kaget (tapi sudah menduga) PSSI dan BLI mengumumkan bahwa musim ini KOMPETISI LIGA INDONESIA TIDAK ADA DEGRADASI. Rinciannya, tim penghuni peringkat 1-9 Divisi Utama ikut Superliga tahun depan yang diikuti oleh 18 klub, sedangkan tim posisi 10-18 dan ditambah 8 tim karbitan dari Divisi Satu ikut Divisi Utama tahun depan dengan total 34 klub. Heehhh…banyolan apa lagi ini PSSI?!?

Melukai Hati Pecinta Sepakbola Nasional
Ya, PSSI telah melukai dan menginjak-injak hati suporter (sejati) sepakbola Indonesia, yang ingin persepakbolaan Indonesia maju. Sebagai suporter, kita (dan saya pribadi) hanya bisa mendukung tim kebanggaan kita, beli tiket, datang ke stadion, dan melihat pertandingan yang berkualitas. Sayang, di saat kuantitas kompetisi kita sedikit terangkat seiring sukses Piala Asia, nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola dihancurkan oleh PSSI yang ironisnya adalah induk sepakbola, yang menaungi sepakbola Indonesia, dan yang membikin kompetisi itu sendiri.

Menghilangkan Sportivitas
Kalah, menang, dan seri adalah hal biasa dalam sepakbola, tawa dan gembira bagi tim dan suporter yang juara serta tangis dan kesedihan bagi tim dan suporter yang terdegradasi juga adalah bagian dari kompetisi itu sendiri. Menghilangkan salah satu diantaranya adalah membuat cacat nilai sepakbola itu sendiri. Bagaimana kita bisa “belajar dari kekalahan” kalau kita tidak pernah marasakan kalah? Bagaimana kita bisa “belajar bangkit dari keterpurukan” kalau kita tidak pernah kalah, terdegradasi, dan kemudian bersama-sama berjuang untuk bangkit kembali? Tengoklah tim-tim besar sepakbola di Eropa seperti Leeds United, Blackburn Rovers, Nantes, Celta Vigo, Napoli, bahkan Juventus yang semuanya pernah merasakan indahnya juara, namun juga merasakan pahitnya degradasi, kemudian berjuang lagi untuk bangkit. Di Indonesia, tim-tim besar seperti Persik Kediri, Persebaya Surabaya, bahkan Arema Malang pernah merasakan berjuang dari Divisi Satu untuk kemudian bangkit dan mengankat supremasi tertinggi sepakbola nasional. Semuanya berangkat dari kerja keras dan kemauan. Lihatlah Persikmania yang cinta damai, Aremania yang menjadi pelopor suporter kreatif di Indoensia, bahkan Bonek yang dulu terkenal anarkis, sekarang jauh lebih santun. Suporter kita memang terkenal anarkis dan selalu mengamuk apabila timnya seri apalagi kalah di kandang. Karena mereka tidak pernah belajar merasakan kekalahan. Mereka mau menang-menang-menang. Padahal di sepakbola yang ada adalah menang-seri-kalah. Dan semua itu hanya bisa dihasilkan dari kompetisi yang berkualitas. Sampai kiamat pun sepakbola Indonesia tidak akan berprestasi dengan pola-pemikiran-dan mentalitas seperti ini!!!

Wahai PSSI, Belajarlah
Saya bukan orang bola, saya bukan pemain sepakbola, saya hanya penggemar (kalau boleh dibilang suporter) sepakbola. Saya, dan banyak suporter lain yang peduli dengan nasib persepakbolaan Indonesia, sangat-sangat prihatin dan menyesalkan keputusan PSSI ini. Saya tidak bermaksud membela tim saya yang berusaha lolos Superliga, dan menjelekkan tim lawan yang berjuang di zona degradasi, atau menjelekkan tim-tim divisi satu yang akan promosi ke divisi utama musim depan, namun saya melihat efek keseluruhan dari ditiadakannya degradasi. Seperti saya bilang di atas, unsur dalam sepakbola telah “cacat”, dengan begini seharusnya pertandingan sudah tidak layak lagi untuk digelar, hanya formalitas, hanya sekedar melaksanakan jadwal, suporter & pengurus bola akan semakin arogan karena tidak mau belajar dari kekalahan, imbasnya timnas dan persepakbolaan kita hanya akan menjadi bahan lelucon di mata internasional. Degradasi bukan akhir dari dunia, degradasi juga bukan akhir dari sepakbola itu sendiri.

“Pantes aja, lha wong asosiasi sepakbolanya dipimpin oleh seorang residivis & koruptor yang mendekam di penjara, kompetisi cuma sandiwara, dan prestasinya hanya dalam angan-angan… oh, kasihannya nasib persepakbolaan di Indonesia…”

Iklan

One thought on “Kompetisi Tanpa Degradsi

  1. Ping balik: Kompetisi Tanpa Degradasi « The Arsenda Community

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s