Nurdin Halid & PSSI

“TERLALU” kata Rhoma Irama

Apa jadinya PSSI jika dipimpin seseorang yang kerap dijerat
hukum? Tanyakan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang berpikiran
normal, pasti memalukan.

Sepakbola Indonesia memang kembali dibuat gusar. Ulah ketua umum
asosiasi sepakbolanya membuat banyak pihak menutup wajah karena malu.

Nurdin Halid, orang nomor satu di PSSI kembali terjerat kasus korupsi.
Setelah sempat berkutat dengan kasus gula dan beras impor, bahkan sempat
merasakan pengalaman berada di balik jeruji penjara, kini ia bersiap
untuk kembali mengalaminya berkat kasus korupsi minyak goreng.

Melihat banyaknya kasus yang dihadapi Nurdin dan mayoritas putusan
bersalah jatuh di pihaknya, sungguh miris melihat PSSI yang sekarang
ini. Citra PSSI sendiri jadi terusik lebih buruk dari sebelumnya. Bak
sebuah pepatah Jawa, “anak polah bapa kepradah”, apapun yang dilakukan
seorang anak juga bakal ikut ditanggung oleh orangtuanya.

Pertanyaan yang terus menerus mengemuka pun muncul kembali. Kali ini
mungkin lebih pedas dari sebelumnya, masih pantaskah Nurdin memimpin
PSSI dan terus memperburuk citra organisasi ini?

Gambarannya cukup jelas, Nurdin terlalu banyak memunculkan kontroversi.
Mulai dari kasus korupsi spesial sembako, hingga keputusannya untuk
menggunakan hak prerogratif sebagai ketua umum.

Lihat saja Persebaya Surabaya yang lolos dari jeratan hukum meski telah
melecehkan kompetisi bikinan PSSI. Belum lagi putusan-putusan lain yang
tak jarang membuat dahi berkernyit.

Dalam tinjauan struktural pun patut dipertanyakan. PSSI yang anggarannya
didapat dari APBD dan berada di bawah Kementerian Negara Pemuda dan
Olahraga (Menegpora) harusnya mengikuti aturan pemerintah dalam
penunjukan siapa yang bekerja di dalamnya.

Nurdin Halid sepertinya sudah tidak layak memimpin mengingat ia tak lagi
berhak mendapat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) karena
beberapa kali berhadapan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Padahal
SKCK merupakan syarat mutlak untuk bisa menjadi pegawai negeri sipil.

Dan jika membandingkan dengan negara tetangga, belum ada ketua umum
asosiasi sepakbola yang sekontroversi Nurdin Halid. Bahkan jika melongok
jauh ke Eropa sana, tiap ketua umum memiliki prestasi berderet, bukan
catatan kontroversi yang panjang.

Michel Platini misalnya. Tak usah mempertanyakan lagi kualitasnya
sebagai pemain dan catatan prestasinya sebelum menjabat sebagai presiden
UEFA. Sepp Blater apalagi.

Terlalu jauh memang jika membandingkan Nurdin dengan kedua sosok
tersebut, namun itu hanyalah gambaran nyata bahwa prestasi harusnya
lebih dikedepankan untuk membawa visi-visi sepakbola dunia.

Akan tetapi, hegemoni Nurdin Halid di PSSI sudah terlalu besar. Untuk
memotongnya butuh orang-orang yang berjiwa militan, pembaharu dan
revolusioner, sosok yang sudah menjadi dambaan Republik Indonesia saat ini.

Dan rezim Nurdin pun akan berkelanjutan. Untuk sementara, hingga Nurdin
Halid bebas dari hukuman penjara yang harus dijalaninya selama dua
tahun, jika tidak dipotong grasi dan sebagainya, Nirwan Bakrie akan
menjadi pemegang kekuasaan sementara, atau lebih tepatnya penghubung
Nurdin dari balik jeruji besi.

PSSI sendiri juga sepertinya tak berkeberatan dipimpin oleh sosok yang
penuh kontroversi. “Belum waktunya Pak Nurdin diminta mundur dari
jabatan ketua umum PSSI. Di pedoman dasar tidak diatur soal pelanggaran
kasus hukum, yang ada Cuma masalah bola,” ungkap Ketua Komite Media Exco
Mafirion (17/90/2007) kemarin.

Jika memang demikian tinggal kerelaaan Nurdin saja untuk melepas
posisinya di PSSI, untuk sedikit memulihkan citra PSSI yang terus
memburuk. Toh visi mulianya membawa Indonesia ke Piala Dunia 2020 bisa
diteruskan suksesornya nanti.

Namun demikian bukan berarti Nurdin menguasai kekuasaan mutlak.
Pengda-Pengda PSSI juga memiliki kewenangan jika mayoritas suara sepakat
menggelar Munas untuk memberhentikan dan menunjuk ketua umum PSSI.

Bagaimana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s