Anarkisme & Perspektif Suporter Sepakbola Indonesia

Liga Djarum Indonesia 2007Sepakbola adalah bagian dari persatuan umat manusia. Hal ini terjadi ketika Timnas Indonesia memulai kiprahnya di pentas Piala Asia 2007. Lewat sebuah alur dramatis memang Indonesia terpaksa mengakui kedigdayaan macan Asia yang gigawangi Lee Chun Soo dkk di pertandingan terakhirnya. Namun diakui atau tidak Piala Asia 2007 memberikan nilai tersendiri bagi Indonesia, dimana puluhan ribu umat manusia duduk bercampur baur menjadi satu.

Banyak pribadi menilai ajang Piala Asia cukup untuk menyatukan berbagai elemen manusia. Sekalipun ketika ajang itu berakhir dan Liga kembali bergulir kita harus meratapi momen-momen krusial tersendiri. Tawuran antar suporter, permasalahan klub dan wasit hingga mafia di dalam tubuh PSSI seolah menjadi petaka bagi persepakbolaan nasional.

Bicara mengenai Liga Indonesia dewasa ini tentu tidak luput dari berbagai sudut nan menarik untuk dicermati. Salah satunya mengenai Suporter dimana suporter adalah bagian dari perjalanan sepakbola negeri ini. Dekade 2000an menjadi saksi perkembangan suporter Indonesia. Dimulai dari Aremania sebagai pionir berdirinya suporter sejak era 90an hingga ratusan suporter lainnya berbagai klub di Indonesia turut memproklamirkan diri menjadi bagian dari suporter sepakbola negeri ini.

Suporter negeri ini tidak luput dari stigma kekerasan. Berbagai perilaku anarkhisme seolah sudah mendarah daging didalam berbagai kejadian yang melibatkan suporter sepakbola tanah air. Bahkan beberapa individu tidak segan membanggakan diri atas perilaku anarkhisme yang mereka raih. Seperti Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. Mereka kerapkali menggunakan anarkhisme sebagai media penumpahan ide-idenya maupun gejolak hati yang lazim terdapat dalam diri setiap manusia seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Meski sepakbola Indonesia tidak akan kehilangan sinergi dahsyat dari suporternya sendiri, namun untuk tingkah anarkhisme dan kekerasan yang tercipta sudah barang tentu mengundang estetika negatif dari masyarakat mengenai perilaku semacam ini. Hingga ada celetukan yang berbunyi “kondisi negatif yang melingkupi Suporter Sepakbola negeri ini menjadi komoditas tersendiri oleh berbagai kepentingan tersendiri”.

Tuhan YME memang menghendaki kehidupan di muka bumi ini berjalan seimbang. Ada sekelompok yang menginginkan keadaan rusuh, namun ada pula yang menginginkan sebaliknya. Di dalam sepakbola Indonesia tidak mustahil hal ini kita temui seiring bertumbuh kembangnya Suporter Sepakbola dan keadaan yang memunculkan didirikannya Asosiasi Suporter untuk menanggulangi aksi anarkhisme suporter dan bentuk persatuan antar suporter lainnya.

Beberapa Kelompok Suporter meski secara individu memproklamirkan jargon untuk mendukung aksi ini. Seperti Aremania yang memiliki jargon “Friendship without Frontier, Football without Violence”. Agaknya ini menjadi upaya Suporter Sepakbola dalam memulihkan citra negatif yang dimiliki suporter sepakbola secara keseluruhan. Namun jargon saja tidaklah cukup, seperti kata pepatah “jargon tetaplah jargon. It’s nothing but only a silent platform” dibutuhkan realisasi nyata sebagai pembuktiannya. Di lain itu dibutuhkan tidak hanya sekedar revolusi sosial namun juga kehendak dari dalam diri. Ibaratnya apa yang terjadi nantinya adalah bagian dari representasi ide selama ini yang kesemuanya mencakup material dan kaidah (maxim) yang tidak bertumpu pada tindakan irrasional dan sporadis semata.

Jargon Aremania diatas terkesan simpel namun memiliki makna yang mendalam. Entah ada berapa jargon Aremania yang bertebaran namun kesemuanya bertumpu pada satu hal “Persahabatan tanpa batas”. Agaknya hal ini sesuai dengan corak Aremania itu sendiri yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan golongan (SARA). Jargon yang ada bukanlah petuah yang mendefinisikan keindahan dengan menggunakan empat prinsip dasar: universalitas subyektif, kegirangan nirkepentingan, kebermaksudan nirmaksud, dan kegirangan niscaya (Kant).

Dalam kamus saya jargon yang kita (baca : Aremania) bawa berarti amanat. Kita bisa memahami bahwa Aremania adalah suatu kelompok suporter yang berbentuk paguyuban bukan sebagai organisasi. Setiap ide, pendapat hingga perspektum analisis dari berbagai individu akan sangat dihargai. Namun amanat adalah sesuatu yang wajib untuk ditaati, apalagi ketika amanat itu tidak sekalipun bertentangan dengan prinsip sosial dan agama yang ada di masyarakat. Sekalipun mungkin sebagian individu/kelompok memiliki sudut pandang tersendiri berkaitan dengan pengetahuan empiris, frase pengalaman yang bertumpu pada argumen transendental dari tiap Aremania yang bertebaran di jagat ini. Toh hal itu tidak mengurangi semangat Aremania untuk menjadi yang terdepan dalam urusan perilaku yang santun dan sportif. Namun, dalam beberapa kejadian seolah menjadi kontradiksi ketika segelintir individu mencoba mengedepankan otot daripada otak dan logika. Apa yang terjadi selanjutnya tidak saja berlanjut bagi visi Aremania itu sendiri tapi juga menyangkut citra yang berkembang di masyarakat.

Semuanya memiliki proporsi tersendiri, karena memang hakekat kehidupan di muka bumi ini dijalankan secara selaras dan seimbang. Spirit dan optimisme adalah kata kunci untuk perubahan yang lebih baik. Terutama menyangkut citra suporter Indonesia kedepannya. Kita tidak perlu menuding dan menyalahkan suatu kelompok tentang keadaan ini. Skeptis dan apriori justru menciptakan keadaan yang absurd. Terlebih dari itu kita harus legawa dan berbesar hati untuk mengajak semua elemen untuk menghapus stigma negatif masyarakat mengenai suporter Indonesia. Toh segalanya tidak akan mampu dilakukan sendiri, niscaya semua orang pasti menginginkan yang terbaik.

Namun bukan persoalan mudah jika egoisme dikedepankan begitu saja. Hal inilah yang menjadi kendala tersendiri ketika sebagian individu/kelompok lebih mengedepankan intuasi yang cenderung menonjolkan sifat ego dibanding kebersamaan dan sifat gotong royong nan lazim dimiliki masyarakat Indonesia. Barangkali tulisan saya ini bukanlah sekedar coretan pada selembar kertas, namun mengajak semua insan terutama suporter Indonesia untuk bersama-sama menciptakan pemahaman yang lebih baik mengenai suporter sepakbola negeri ini. Seperti yang terdapat dalam sebuah ungkapan “victoria concordia crescit”, kemenangan berkembang dari harmoni. Saya percaya hal ini bukanlah suatu teorematika belaka.

Jakarta, 24 Agustus 2007.
Oke Suko R
diambil dari SatuJiwa.net

Iklan

10 thoughts on “Anarkisme & Perspektif Suporter Sepakbola Indonesia

  1. aremania dulu tidak sprti skrang, sekarang hanya bisa mengolok2 (misuhi) BONEK saja padahal katanya harus saling rukun n damai srta saling menghormati……..

  2. Ping balik: Anarkisme & Perspektif Suporter Sepakbola Indonesia « Arisahrudin2008’s Weblog

  3. ya suporter indonesia kebanyaakan kurang bisa menerima kekalahan.lebih mementing tim harus menang. ini sikap fanatik berlebihan yang dapat menimbulkan perang antar sporter.maka pemerintah perlu tindakan tegas untuk megnatur masalah suporter.

  4. napa LA maNIA , PASOPATI Nd warGA solo tEga MEnGhUJNi BATu KEPADA BONeK……………………????

    PADAHAL bOnEk NGK anaRKiS……??

    APA SALAH BONEK…….??

    SAya SEbgI WArga SURABAYA.
    NGAK tega ngELIAT bANyk KoRban BerJtUAn………..???

  5. saya sangat berterimakasih ats situs ini, karena sangat membantu saya dalam mengamati sepak bola indonesia

  6. Aremania dulu dengan Aremania sekarag BEDA jauh…
    Mereka musuhin BONEX…
    Tpi klo ad BONEX slalu menghindar…
    Itu nmany BERANI DI BEAKANG, TAKUT DI DEPAN…
    Bukankah lebih baek memperbanyak saudara dari pda musuh?!

  7. I need to to thank you for this very good read!

    ! I absolutely enjoyed every bit of it. I have you book-marked to check out new things you post…

  8. Aremania itu bisa dikategorikan SUporter Anarki. Kenapa? Dalam definisi dan filosofi Anarkisme, Anarkisme adalah tatanan sikap politik yang anti hierarki, bergerak mandiri, kebebasan dengan menghormati hak yang lain.

    Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia (Peter Kropotkin).

    Bisa juga dilihat sam, di buku buku karya bakunin tentang anarkisme yang sebenarnya. Anarkisme itu menjunjung tinggi egaliter dimana itu merupakan sifat nya arek malang sejak dahulu.

    Anarkisme yang sebenarnya menjujung tinggi martabat manusia, menolak segala penindasan.

    Dan terjadi kesalahpahaman tentang anarki, dan Aremania saat ini secara tidak disadari memang sudah menjalankan anarkisme, dimana tanpa adanya hirarki kepemimpinan, bergerak sendiri. Dan perlu dilakukan pembelajaran bahwa sebagai suporter harus mampu membawa virus perdamaian anarkisme ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s