Perkembangan teknologi informasi lambat laun diprediksi akan mematikan teknologi lama. Setelah kantor pos kini bagaikan kenangan masa lalu setelah ada fasilitas email dan chatting, surat kabar (koran) akan menjadi korban berikutnya seiring dengan perkembangan media online, di samping beragam situs jejaring sosial, Facebook, MySpace, Twitter, hingga blog. Read more…
Menarik disimak catatan Dahlan Ihsan menyambut Hari Pers Nasional, tentang “Wartawan Perjuangan yang Murni dalam Lima Tahun”, hal ini tidak lepas dari fenomena krisis finansial global dan trend media online yang terus dipromosikan menggeser media cetak. Bagaimana pembaca koran di AS naik drastis tetapi pembeli koran malah turun drastis. Untuk kali pertama dalam sejarah media, pelantikan Barack Obama lebih banyak ditonton lewat laptop (internet) daripada lewat televisi. Ternyata, naiknya pembaca koran lewat internet dan meningkatnya “pemirsa” laptop (internet) untuk peristiwa besar telah menyusutkan pendapatan iklan kedua jenis media tersebut.
Read more…
Dengan bermodal sepatu, Muntadar Al-Zaidi tiba-tiba menjadi orang populer sedunia. Entah, apa si Al-Zaidi ini sudah kepalang menahan emosi sampai ke ubun-ubun atau karena memang kesempatan berhadapan langsung dengan Bush tidak datang untuk kedua kali, wartawan salah satu media dari Mesir ini harus rela kehilangan sepasang sepatu yang gagal melayang ke wajah Bush serta ditimpuki sejumlah pukulan oleh Paspampres-nya Bush. Tapi konon, dia langsung mendapat “hadiah” seorang mahasiswi cantik asal Mesir, wow… :)

Al-Zaidi saat melempat sepatu ke arah Bush (foto: New York Times)
Dunia blog tidak lepas dari tulis-menulis (meskipun pada kenyataannya kita tidak pernah menulis di blog, melainkan mengetik). Seperti halnya blogger yang “menulis” karyanya di dunia blog, begitu pula jurnalis (wartawan) menuliskan pemikiran dan liputannya di media massa (cetak/koran dan elektronik). Lantas, apakah penulis blogger bisa disamakan dengan jurnalis (wartawan). Meskipun mempunyai prinsip yang sama, dunia jurnalistik nyatanya jauh lebih luas dibandingkan blog atau blogger. Tidak salah memang karena di dunia jurnalistik, setiap wartawan dibekali pendidikan formal, ilmu jurnalistik, kode etik penulisan, dan hal-hal lain yang terikat dengan pewartaan.
Read more…
Mungkin, aku merupakan salah satu dari sekian banyak “korban” dari media online. Sebuah pergeseran budaya atau kebiasaan. Kalau dulu setiap pagi aku biasa mampir di kios koran deket rumah untuk membeli koran (sebut merk, tp bukan promosi lho…) Jawapos (sekalian nebeng baca koran lain seperti Malang Post, Kompas, Sindo, Bola, Soccer, dll, istilahnya satu kali baca koran di kios, dapat banyak berita), sekarang kegiatan tersebut sudah hampir tidak pernah lagi aku lakukan karena sudah bergeser ke media online. Setiap pagi, dengan ditemani segelas kopi mochachino, aku langsung mengakses beberapa portal berita online, mulai Detik, Okezone, Kompas, hingga website beberapa koran yang dulunya aku baca di kios, seperti Jawapos, Malang Post, Surya, dan Bola.
Read more…
Aku cukup menikmati aktivitasku sekarang sebagai jurnalis Ongisnade.Net, selain tahu lebih banyak tentang “misteri” sepakbola Indonesia, mau tidak mau aku jadi ikut berkecimpug di aktivits rekan-rekan wartawan, sebuah dunia yang sebelumnya belum aku kenal. Termasuk salah satunya kemarin waktu pertandingan sepakbola persahabatan antara tim SIWO PWI Malang melawan tim Wartawan Sidoarjo di Stadion Gelora Delta Sidoarjo.

foto: Tim SIWO PWI Jurnalis Malang (Jurma) FC
Read more…
Hasil Survei AJI Malang, Upah Layak Jurnalis Rp 2,4 juta
Belum adanya standar pengupahan bagi junalis mendorong Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang mengadakan survei upah layak jurnalis. Dari survei dan analisa yang dilakukan dua minggu lamanya, AJI Malang menyimpulkan upah layak jurnalis Malang sebesar Rp 2.399.705 yang dibulatkan menjadi Rp 2,4 juta. Read more…
Salah satu temanku bilang (atau menyidir ya? hehehe…) “Zul, kamu itu kuliah IT, (calon) sarjana komputer, tapi kok malah seneng dunia jurnalistik dan jadi wartawan?” Apa boleh buat, aku tanggapi aja dengan enteng, “namanya juga hobi…” Tapi belakangan aku sadar kalau apa yang telah aku tulis, apa yang telah aku liput dan laporkan, ternyata bukan cuma untuk konsumsi pribadi, tetapi telah menembus batas dunia jurnalistik itu sendiri. Terlebih aku menulis bukan untuk koran atau majalah, tetapi di “dunia maya”, yang mana semua orang bisa membacanya dimanapun berada. Read more…
Blogger memang bukan penulis, penulis dalam arti kata formal. Kebalikannya, penulis juga belum tentu seorang blogger. Tapi ada satu kesamaan antara penulis (editor, wartawan, atau jurnalis) dengan blogger, yaitu apa yang mereka tulis dibaca oleh publik. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, blogger, seperti halnya wartawan media cetak atau elektronik (online) dituntut mempertanggung jawabkan apa yang mereka tulis kepada publik.
Read more…
Benar sekali apa yang dikatakan oleh Steve Outing dalam tulisannya “The 11 Layers of Citizen Journalism”, istilah citizen journalism saat ini menjadi one of the hottest buzzword dalam dunia jurnalistik.
Rasanya ketinggalan jaman kalau sampai ketinggalan kata-kata ini. Citizen journalism diucapkan oleh siapapun yang mengamati perkembangan media, baik mereka yang berada di lingkaran dalam media seperti para praktisi, kru dan pemilik media, maupun mereka yang berada di luar media, seperti para pengamat media. Kurang gaul, rasanya, kalau sampai ketinggalan isu ini. Read more…
Selama nyambi jadi jurnalis ongisnade.net, sudah beberapa kali aku ditolak wawancara oleh pemain Arema. Mungkin karena lagi ga mood, lagi mutung akibat performanya gak kunjung membaik, atau habis kena semprot Banur. Terakhir, Emile Mbamba malah mengusirku ketika aku tanya baik-baik, “Go.. go.. I have no answer for you!” walah walah nasib…. Read more…
Komentar Anda