Sudanco Supriyadi Masih Hidup?

15 08 2008

Saat SD, SMP, hingga SMA dulu, kita sering membaca buku sejarah yang menceritakan perjuangan salah satu pejuang kemerdekaan, Sudanco Supriyadi, salah satu tokoh gerakan PETA di Blitar yang berjasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Jelang Dirgahayu RI ke 63 tahun 2008 ini, ada berita heboh yang memberitakan Supriyadi ternyata masih hidup, tidak gugur atau menghilang seperti yang selama ini diceritakan dalam buku-buku sejarah. Berikut artikelnya yang aku kutip dari harian Surya.

Pengakuan warga Semarang Andaryoko Wisnu Prabu, 88, bahwa dirinya adalah Supriyadi, pahlawan nasional yang dinyatakan hilang usai melawan Jepang pada 1945, menimbulkan pro-kontra. Di tengah polemik itu, misteri Supriyadi selama ini justru telah menjadikannya sebagai mitos. Setidaknya bagi warga Blitar.

“Apakah kira-kira Supriyadi memang punya ilmu, ngelmu?” Pertanyaan iseng itu saya ajukan kepada Ki Utomo Darmadi, adik tiri pahlawan nasional Supriyadi yang bermukim di Jakarta, setahun lalu.

Utomo, anak Raden Darmadi (Bupati Blitar di zaman kemerdekaan), lantas tersenyum. Dia kemudian menyebut nama Pangeran Diponegoro. Katanya, Diponegoro itu tentu punya ngelmu. “Tapi nyatanya dia bisa ditangkap Belanda,” tegas Utomo.

Saya memahami maksud Utomo. Ia mungkin seorang yang percaya urusan magis tapi dalam hal kematian Supriyadi, Utomo yakin kakaknya sudah dibantai tentara Jepang.
Keyakinannya konsisten sampai sekarang.

Utomo, yang kini berusia 78 tahun, punya kisah lain waktu ikut rangkaian pertempuran 10 November 1945. Itu berarti sembilan bulan setelah pemberontakan gagal sudancho (sebutan komandan peleton) Supriyadi di Blitar, 14 Februari 1945.

Sebagai pemuda belasan tahun, Utomo bersama pasukannya terdesak sampai Porong, Sidoarjo. Tapi, ketika pasukan NICA dan Belanda merangsek ke Selatan, kawan-kawannya mendorongnya supaya bertempur di garda depan.

“Kamu di depan, kan adik Supriyadi, bisa menghilang,” cerita Utomo. “Menghilang apanya, wong saya malah ngompol kok,” kenangnya, tertawa.

Tapi cerita Supriyadi bisa menghilang memang sedemikian mengakar. Apalagi di Blitar, tempat para anggota Pembela Tanah Air (PETA) pertama kali membangkang Jepang dengan pimpinan Supriyadi. Cerita soal Supriyadi itu bisa muncul dalam obrolan warga Blitar dari tahun ke tahun. Jadinya mirip dongeng.

Ada banyak versi pula. Mulai dari Supriyadi moksa atau menghilangkan diri di Gunung Kelud atau Gunung Kawi. Ada juga yang percaya Supriyadi masih hidup dan tinggal di kawasan pegunungan Blitar atau Malang Selatan. Justru, kisah detail soal pemberontakan itu malah tenggelam dan memang tidak menarik jadi bahan obrolan ringan.

Namun, bagi warga Blitar dari generasi yang lebih muda, kisah moksa Supriyadi itu malah jadi bahan guyonan. “Supriyadi itu bisa menghilang tapi tak bisa kembali,” kata mereka.

Tapi untuk generasi sepuh, cerita ihwal daya linuwih atau kelebihan Supriyadi tetaplah mempesona. Bahkan, ada yang percaya Supriyadi akan muncul lagi ketika situasi zaman sudah kelewat gawat. Ya, Supriyadi adalah Ratu Adil, mimpi khas mesianistik purba yang terdapat dalam hampir semua bangsa.

Tapi bagaimanapun, Supriyadi adalah tokoh nyata, anak bangsa yang coba melawan penindasan Jepang meski akhirnya gagal. Sebagaimana Sukarno yang juga dari Blitar, jejak-jejak Supriyadi masih bisa diziarahi hingga kini.

Mulai dari asrama pasukannya yang kini jadi gedung sekolah hingga lokasi rumah guru spiritualnya, Mbah Bendo. Ada pula Wisma Darmadi, bekas rumah dinas ayahnya, Raden Darmadi, yang jadi Bupati Blitar selepas proklamasi kemerdekaan RI.

Wisma itu tak jauh dari makam Sukarno. Supriyadi dan Sukarno kebetulan sama-sama punya keterkaitan dengan Blitar dan berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan. Perbedaannya, Sukarno bisa berkolaborasi dengan Jepang, sedangkan Supriyadi akhirnya melawan.

Tapi Sukarno dalam biografinya oleh Cindy Adams mengaku tahu rencana Supriyadi memberontak di Blitar, bersama-sama tokoh PETA Blitar lainnya. Mulai dari seperti sudancho dr Ismangil, sudancho Soeparjono, sudancho Moeradi, budancho (komandan kompi) Soedarmo, budancho Halir Mangkoedidjaja dan budancho Soenanto.

“Bagi orang Jepang, pemberontakan PETA merupakan peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. `Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar. Orang tuaku di Blitar`,” kata Sukarno seperti tertulis dalam biografinya yang digarap Cindy Adams. (yuli ahmada/surya.co.id)


Tindakan

Information

15 tanggapan

20 08 2008
apimerah

aq gak tahu klo supriyadi itu bisa ngilang…….
tpi secara logika memang Supriyadi telah tewas
gak mungkin orang dari Semarang itu adalah Supriyadi…
tak liat poto Supriyadi waktu muda sama orangnya gak mirip babar blas

20 08 2008
pras33stm

kita smua tahu bahwa supriyadi sbenarnya sudah wafat…, tp knapa si orang smarang ini mengaku sebagai supriyadi?

20 05 2009
putri

Supriyadi masih hiiduuup….Bukan orang semarang & bukan tinggal di semarang. Beliau berada di Jawa Timur.

21 08 2008
an1k03a

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://politik.infogue.com/sudanco_supriyadi_masih_hidup_

21 08 2008
PETRUS

KLO DILENGKAPI ANIMASI TAMBAH LUCU TUH

23 08 2008
lina

hingga kini saya masih penasaran sama Andaryoko, apakah memang dia benar2 Supriyadi??
pemerintah harus segera menuntaskan masalah ini…segera!!! pastikan apakah andaryoko itu supriyadi atau bukan..??

26 08 2008
mboisker

namanya orang bisa saja kan ngaku Supriyadi, tinggal buka mulut juga bisa.
di tempatku yang namanya supriyadi juga banyak. dan hal-hal tsb ga perlu diperpanjang lagi. yang penting kita mesti menjunjung tinggi nama Supriyadi sang pahlawan.

19 09 2008
Hanif satrio

saya adalah seorang pemuda 13 tahun yang fans berat sama supriyadi ……..

tentang klaim andaryoko sebagai supriyadi bisa di pertahankan karena waktu bertemu letda inf soekarjdo wilardjito ….beliau mengakui bahwa andaryoko adalah supriyadi……….banyak yang tak bisa saya critakan disini ……..jikalau ada yang ingin lebih tau tentang andaryoko(Supriyadi) silahkan kunjungi dan isi Koment anda disalah satu postingan saya …..

BLOG: http://www.hanifcurhat.blogspot.com

20 05 2009
putri

Andaryoko bukan SUPRIYADI…!!!
Kalau memang benar beliau Supriyadi, lidah beliau pasti pendek, karena Supriyadi lidahnya pernah dipotong….!!!!!

4 10 2008
khusnul

tapi kita kan tidak tahu persis dimana supriadi dimakamkan akan tatapi kita harus teliti setelah menghilang kemana beliau pergi dan oleh bungkarno supriyadi disuruh gati nama supaya tidak diketahui identitasnya

20 05 2009
putri

Supriyadi masiiihhh….hiiiduuupp………..
sekarang beliau berada di daerah Jawa Timur
di pelosok desa yg jauh dari keramaian.
Itu baru supriyadi yg asli 100%, pahlawan Nasional kebanggaan Bangsa Indonesia.
Coba tanyakan kepada salah satu wartawan majalah di kota tersebut.
kalau ada yg punya no telpon bapak Oetomo saya minta ya….terimakasih….

6 10 2008
Didi Untung Susadi, S.H.

Banyak versi munculnya tentang Soedancho Soepriyadi (Pembela Tanah Air) dari Blitar yang sering timbul dan tenggelam lagi tanpa ada kabar yang memastikan, rasanya ingin memberikan sumbangan pemikiran tentang pembenaran keberadaannya, bahwa masih ada ataukah sudah gugur.
Saya ini seorang yang oleh keluarga Almarhum Eyang R. Darmadi mantan Bupati Blitar diangkat sebagai cucu, inipun budi baik almahum yang berkesinambungan mulai dari ibu, ketika itu saya ikut merawat ayahnda Supriyadi (Eyang R. Darmadi) sewaktu sakit hingga wafat dan terus mengikuti prosesi penglarungan mulai dari kremasi di Krematorium Malang hingga proses penglarungan di pantai laut selatan Kota Blitar.
Ketika itu saya masih kecil diasuh dan dibesarkan hingga tamat SLTA, maka dari balik kehidupan keluarga harmonis yang berdomisili di Jl. Pahlawan 40 Blitar (Wisma Darmadi) dimana para putra-putrinya yang sudah berkeluarga dan menyebar ke seantero kota-kota besar di Indonesia, sempat saya tinggal dirumah itu mengamati peri kehidupan sehari-hari hingga Eyang kakung dan Eyang putri Rr. Soesulih Darmadi bersama keluarga putra bungsunya yaitu R. Hadiono Darmadi.
Dirumah itu, menjelang dewasa sering memandangai foto Soedanco Soepriyadi yang terpampang di ruang tamu tengah dan saya pernah bertanya pada Eyang, apakah Pak Soepriyadi itu masih hidup ? Alasan ini saya tanyakan karena sewaktu sekolah pada pelajaran sejarah tentang tokoh Peta ini terus mengiang ditelinga. Eyang Darmadi menjawab sudah. Kemudian terus bertanya lho kalau sudah wafat makamnya dimana Eyang ? itu belum terjawab.
Jika ditinjau dari jawaban yang saya dengar sendiri dari seorang ayah kandung Soepriadi terlepas dari hilangnya bukti, maka firasat keterikatan bathin dan getaran jiwa adalah isyarat telah terjadi sesuatu pada sang putra, walaupun firasat itu belum bisa dianggap sepenuhnya benar karena fakta yang berkembang dengan rentan waktu yang begitu panjang apalagi anggapan masyarakat adalah menghilang tanpa jasad, maka seorang ayah yang telah melahirkan anak dalam hati kecil tetap menolak anggapan yang berkembang luas tentang ketiadaan putranya.
Dengan mengikuti perkembangan sejarah tentang Soepriyadi yang sering muncul dimedia serta galian penelitian berbagai pihak, semuanya belum pernah membuahkan hasil, mengapa demikian ? Pertama, siapapun yang mengaku dirinya Soepriyadi harus bisa membuktikan dirinya dan mampu membuka “password” yang dipegang oleh Pak De Tomy (Ki Oetomo Darmadi); Kedua, mengapa ketika dicanangkan sebagai gelar Pahlawan Nasional yang diberikan pada 9 Agustus 1975 oleh Presiden Soeharto yang menganggap Soepriyadi telah gugur tidak ada claim dari pihak yang pernah mengaku Soepriyadi. Kemudian motif apa pengakuan pihak-pihak lain yang mengatas namakan Soepriyadi muncul di era sekarang.
Benar adanya bahwa salah satu yang pernah saya tangkap adalah dialog bahasa belanda yang setiap saat dikomunikasikan termasuk kepada saya, karena didikan almarhum pada saya saat itu adalah didikan belanda dan itu adalah merupakan kunci utama seperti yang diserukan oleh Pak De Tomy (Ki Oetomo Darmadi).
Demikian sekilas pandangan, semoga untuk yang berkepentingan segera dikonfrontir bersama Pak De Tomy (Ki Oetomo Darmadi) di Jl. Banda dibilangan Blok M Kebayoran Baru Jakarta agar catatan sejarah tidak kabur seterusnya.

19 03 2009
totok

“Bagi orang Jepang, pemberontakan PETA merupakan peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. `Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar. Orang tuaku di Blitar`,” kata Sukarno seperti tertulis dalam biografinya yang digarap Cindy Adams.
Pernyataan BK ini yang sebenarnya harus dicurigai, pernyataan dalam wawancara ini mencoba memperbaiki citra BK sebagai kolaborator Jepang.

22 07 2009
rudi a

kok simpang siur ya..pemerintah kurang agresif menyangkut pahlawan kita yg satu ini…

3 09 2009
teguh

Bagaimana??? apadah ktemu?? benarkah pak andaryoko itu??? nyata takbertahan lama hidupnya,tlah membohongi orang banyak.Apa harapannya ia begitu????kita taktau yaw. yg jlas kita ikuti trus jejak perjuangannya eyang kita Mbah Romo Eyang Sinuhun Ir.Supriadi sang pejuang tanpa pamrih.Kita Bela Bangsa.Modar yo wes.Apa malaysia? berani????, embahnya berani!!!,rajanya itu embah2nya kan katanya orang2 dari desa piji kawasan pinggiran kab porworejo dekat jogja itu.Kok gitu loh orang.Lama lama bikin poying. mari sebangsa dan setanah air;kita selesaikan persoalan ini, minta dgn cara apa:kita layani. Bung Karno sblmnya udah ngediko and tau klo orang itu mau bkin poying kita. maju bela bangsa kita,Ok coy. terima kasih salam PERSATUAN BANGSA and Rahayu sagung dumadi.

Tinggalkan komentar